Menikah adalah harapan semua orang, karena disamping tujuan
keterpenuhan hak biologis, juga ada banyak bagian dari usaha sadar manusia
untuk menghindar dari segala perbuatan tercela. Perintah menikah juga banyak
termaktub dalam berbagai Hadist diantaranya “Barang
siapa di antara kalian sudah mampu secara materi dan jasmani maka menikahlah
karena hal itu bisa menjaga mata dan kemaluan, maka barang siapa tidak mampu
hendaknya ia berpuasa karena puasa terdapat obat.” (H.R. Muttafaqun Alaih)”
Hadist diatas menunjukkan betapa pentingnya proses berumah tangga bagi semua manusia yang
hdiup di Bumi Allah.
Namun permasalahannya bagaimana prosesi kehidupan
pasca melaksanakan perintah menikah, karena bagaimanapun menikah itu bukan
persoalan satu hari atau dua hari, akan tetapi persoalan ikatan sepanjang hidup
manusia. Kalimat “Qobiltu” yang terucap dari lisan lelaki dihadapan wali
dan saksi bukan semata bermakna penerimaan dalam makna formal (sebatas menjadi
suami), akan tetapi kalimat “Qobiltu” itu sendiri bermakna siap dan
menerima menjadi kunci solusi (problem
soulver) dalam berbagai permasalahan keluarga.
Ada banyak ulama’ memberikan pandangannya
masing-masing tentang tips (Thoriqoh) untuk menjaga keutuhan
berkeluarga, diantaranya tawaran yang disyiratkan oleh Ibnu Malik dalam kitab
Alfiahnya.
فَارْفَعْ
بِضَمِّ وَانْصِبَنْ فَتْحَا وَجُرْ # كَسْرٌ كَذِ كْرُاللهِ عَبْدَهُ يَسُر
وَجْزِمْ
بِتَسْكِيْنِ وَغَيْرُ مَاذُكِرْ # يَنُوْبُ نَحْوُ جَا أَخُو نَمِر
Secara
harfiyah bait tersebut memang membahas tentang dasar-dasar ilmu Nahwu, akan
tetapi ketika ditarik dalam arti interpretasi isyarat berumah tangga, maka bisa
diartikan (فَارْفَعْ) junjunglah sebuah kekompakan (بِضَمِّ)
diantara suami istri, dalam setiap dinamika berkeluarga sebisa mungkin utamakanlah kekompakan,
musyawarakanlah dengan pasangan hidupnya sebelum memutuskan suatu sikap, jangan
sampai ada satu sikap yang satu sama lain tidak tahu maksud dan tujuannya. Jadilah
keluarga yang super team bukan super man atau super women.
(وَانْصِبَنْ
فَتْحَا) dan tegakkan keterbukaan diantara suami istri. Hal ini yang rentan terjadi dalam kehidupan suami-istri, kurangnya
keterbukaan dalam segala urusan, sehingga berdampak hilangnya rasa percaya
diantara keduanya. (وَجُرْ) tarik dan buanglah
sebuah permasalahan yang menjadikan perpecahan (كَسْرٌ) didalam berumah tangga, atas segala permasalahan baik yang kecil
usahakanlah dibicarakan baik-baik, jelaskanlah duduk perkaranya seperti apa dan
temukanlah solusinya secara arif bersama-sama, jangan sampai hanya karena permasalahan
kecil, hubungan yang sudah lama dijalani terpaksa dikorbankan karena ego
semata. (كَذِ كْرُاللهِ) dan hendaklah selalu
berdoa kepada Allah SWT . ketaatan kepada Allah adalah master key (kunci
utama) dalam berkeluarga, jangan lelah mengingat Allah dalam keadaan apapaun, mintalah
kekekalan dalam keluarga lewat media do’a.
Dan yang terakhir (وَجْزِمْ) dan mantapkan, yaitu
dengan berpendirian teguh (بِتَسْكِيْنِ) serta istiqomah, point
istiqomah ini yang sangat dan amatlah sulit dilakukan oleh manusia pada umunya,
saya jadi teringat dawuh Al-Muallim Al- Maghfurullah Murobbi Ruhiy KH. Busyiri
Nawawi, yang kemudia selalu diingatkan oleh Murobbi Ruhiy KH. Athoullah Busyiri
Nawawi di berbagai pengajian di pesantren Assirojiyyah “Soghi Bedhe e’ Abhe’,
Penter Bedhe e’ Abhe’, se Malarat jiyah Istiqomah”, artinya Kaya dan pintar
itu tergantung usaha kita, pingin kaya rajinlah bekerja, pingin pintar rajinlah
belajar. Namun hal yang paling sulit adalah Istiqomah. Pun
dalam kelaurga Istiqomah juga menjadi problem besar, seperti Istiqomah dalam
beribadah kepada Allah, Istiqomah tetap mencintai keluarganya dll.
Wal. Hasil dari kalimat hikmah
yang sengaja saya kutipkan dari sepenggal bait Alfiyah itu, mampu memberikan
suntikan pelajaran bagi kita semua, terutamanya bagi suami istri yang sedang
menjalani bahtera rumah tangga , ataupun bagi kalangan muda yang mempunyai niat
utuk membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga kita semua
termasuk orang orang yang selalu menjaga dan mencintai keutuhan keluarga.
Amiin.
Sebelumnya
mintaaf, izinkan saya menulis tulisan inin dengan tersenyum, karena memang saya
teringat masa kecil saya ketika bulan puasa tiba, saya dan temen-temen sebaya
pasti melakukan aktivitas ini. Saya juga kesulitas dalam hal ejaan yang benar
untuk menuliskan kata itu, anggap saja benarlah. Thuk-thuk-thuk satu
nama dari sebuah aktifitas membangunkan masyarakat sekitar untuk mempersiapkan
sajian sahurnya dan peserta thuk-thuk-thuk ini para generasi muda di desa saya,
mulai dari kelas TK sampai para santri yang sedang liburan. Sampai ada salah
satu teman saya menangis ke orang tuanya karena tidak dibangunkan pada jam
dimana aktifitas ini dilaksanakan.
Pertanyaannya
kenapa kok dinamakan dengan panggilan “Thuk-Thuk-Thuk”, karena alat
utama yang digunakan adalah bambu untuh yang dilubangi tengahnya, ketika
ditabuh bunyinya “Thuk”, dari itu masyarakat di desa saya menyebutnya “Thuk-Thuk-Thuk”.
Saya tidak tahu apa nama aktifitas ini di daerah lain terutama di wilayah
Madura, yang saya ceritakan adalah di desa permai Soro’an. Segala lagu
dinyanyikan mengikuti nada yang dimainkan mulai Shalwat, dangdut dan lagu-lagu
ciptaannya sendiri. Contohnya lagu buatan sendiri; “Sahur, Sahur, Sahur,
Nase’nah nase’ jegung, juko’nah juko’ gerreng, kuwanah kuwa maronggih. Sahur,
sahur, sahur”.
Lepas
dari aktifitas atau tradisi ini sebagai symbol tradisi bagi kalangan muda di desa akan
tetapi dampaknya sangat positif, dimana aktifitas ini membantu seluruh
masyarakat di desa saya untuk bangun dan mempersiapkan sahurnya, tujuannya agar
tidak kesiangan. Dan sebagai media para generasi muda untuk kumpul setiap jam
dua dini hari. Satu bulan lagi puasa akan tiba, dan perbincangan soal Thok thok
ini akan menjadi pembahasan utama kami sebagai masyarakat Soro’an.
Bumi Allah, 13 April 2018
Bumi Allah, 13 April 2018
Hampir
semua masyarakat yang ada Indonesia ketika ditanya tentang musim , maka definisi yang keluar adalah tentang salah satu klasifikasi
utama tahun, yang itu berdasarkan bentuk iklim secara luas, misalnya di
Indonesia kita kenal ada musim panas dan musim kemarau (panas). Tapi bedahalnya
ketika musim itu ditarik dalam konstruksi dialogis yang sering dilakukan oleh
masyarakat madura yang kemudian dialih bahasakan menjadi kata “Osom”,
tapi secara terminologis definisnya sama dalam pendekatan arti dan makna. Perbedaannya
hanya pada proses universalisasi penggunaan kata itu.
Masyarakat Madura menggunakan kata musim atau osom itu tidak
hanya sebatas pada suatu keadaan alam, seperti panas dan hujan. Tapi lebih pada
sebab dari keadaan iklim itu. Misalnya musim panas, maka masyarakat madura
khsusunya di daerah saya mengidentikkan dengan “Osom Mader” atau musim
masyarakat di Madura memperoduksi garam, atau juga disebagian daerah yang dalam
musim panas itu menanam tembakau, sehingga istilahnya berubah menjadi “Osom
Bekoh”. Dan ketika musim hujanpun masyarakat Madura juga jarang untuk
mengakatan musim itu dalam arti sebenarnya, melainkan yang dikenal malah “osom
padhi”, suatu musim dimana masyarakat Madura berbondong untuk bercocok tanam
padi di sawahnya masing-masing.
Keluar dari konteks diatas, pun orang Madura juga
mengistilahkan musim atau osom itu sebagai simbol suatu kegiatan yang bersifat keberlanjutan
(sustainability). Misal pada satu bulan tertentu mayoritas masyarakat
Madura melaksanakan pernikahan, maka disebutlah “osom mantan” seperti
bulan-bulan Sya’ban/Rebbe. Atau ada juga “osom Lasor” dan masih banyak lagi
musim/osom yang disgunakan oleh masyarakat Madura. Dalam hal ini bahwa memang
bagi masyarakat Madura penggunaan kata musim/osom itu tidak dipenjara oleh
suatu iklim atau cuaca, akan tetapi lebih bermakna universal.
Diberbagai tulisan tentang pentingnya penghormatan kepada
orang tua sering saya ibratkan, bahwa “Orang tua adalah Tuhan yang tampak”. Dan
bagi saya kalimat itu sangat tidak berlebihan dikarenakan tidak ada satupun
orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia. Mungkin sifat Rahman dan
Rahimnya orang tua kepada anaknya tidak seperti Rahman dan Rahim-Nya Tuhan
kepada hambanya, akan tetapi disadari atau tidak segala aspek cinta kasih orang
tua kepada buah hatinya salah satu manifestasi dari cinta kasih Tuhan.
Maka dari itu saking pentingnya sikap hormat seorang anak
kepada orang tuanya, masyarakat Madura memunculkan pribahasa “Tade’ aeng
aghili ka oloh” atau tidak ada air yang mengalir ke hulu. pribahasa ini
artinya tidak ada satupun dari orang tua yang ingin numpang kehidupan kepada
anaknya, malah sebaliknya, anak yang selalu merepotkan orang tuanya. Saking pentingnya
sikap hormat itu dalam pribahasa lain yang berkembang di masyarakat Madura
menaruh urutan pertama dan kedua dalam pribahasa “Bepha’ Bebhu, Ghuru, Ratho”.
Orang tua hanya ingin melihat anaknya bahagia, dan tak sedikitpun orang tua
ingin anaknya tahu tentang betapa beratnya mencari nafkah dan merawatnya. Yang ingin
orang tua tahu, anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Pribahasan (perbhesan; baca bahasa Madura) “Tade’
aeng aghili ka oloh” menjadi pengingat (Tanbih) sekalipun pengikat (Ta’qid) kepada kita terutamanya masyarakat Madura,
bahwa sekalipun anaknya sukses menjadi orang besar, tak sedikitpun orang tua
ingin meminta dari kebesaran itu, orang tua hanya butuh kabar bahwa anaknya
sedang menjadi orang besar. Akan tetapi pribahasa ini juga tamparan bagi anak,
bahwa segunung emas dan permata tidak akan mampu membayar kasih sayang orang
tua. Teruntuk yang orang tuanya sudah terlebih dahulu kembali kehadapan Tuhan,
jangan lupa kirimkan fatihah disetiap waktu. Dan bagi orang tuanya yang masih
dalam kedaan sehat, berikanlah persembahan yang terbaik kepada orang tua kita.
“Allahummaghfirli Dzunubi Waliwalidayya Warhamhuma
Kama Robbayani Saghiro”
Membincang
peristilahan kata yang ada di Madura memang tiada habisnya, disamping mengandung
makna yang dalam, juga tidak boros pada penggunaan kata. Pagi ini saya ingin
sedikit memperkenalkan istilah yang ketika saya masih kecil sering saya dengar
ketika malam jum’at. Istilah itu adalah “Asyarakalan”. Tapi istilah ini
hanya sebagian masyarakat Madura yang menggunakannya, sebagian lagi malah tidak
tahu dengan istilah sarakalan ini. Di desa saya Asyarakalan adalah istilah yang
digunakan sebagai petunjuk suatu kegiatan membaca shalawat. Tapi kenapa kok
bisa disebut dengan Asyarakalan. Apa hubungannya dengan kegiatan majlis
shalawat dengan istilah sarakalan?. Menurut sebagian teman saya di Madura,
bahwa sarakalan itu diambil dari bacaan shlawat ketika masyarakat Madura sedang
Mahallul Qiyam, di teks shalawat itu ada bacaan “Asyraqol Badru Alaina....”
. Makanya untuk mempermudah dalam penyebutan suatu kegiatan, diambillah kata
Asyraqal yang kemudian dipelesetkan menjadi “Asyarakalan”.
Memang
secara makna sangat keliru, tapi bagi masyarakat Madura maksud dari Istilah “Asyarakalan”
itu sendiri bukan untuk dimakanai akan tetapi hanya sebatas penyebutan saja, subtansinya
adalah bagaimana masyarakat Madura terutama di desa saya melangsungkan
pembacaan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dengan harapan mendapatkan
syafaat. Dengan kayanya masyarakat Madura dengan beraneka ragam Istilah
sebenarnya menjadi kewajiban bagi generasi muda yang berasal dari Madura untuk
mempertahankannya, artinya istilah-istilah yang diwariskan oleh para pendahulu
kita harus tetap kita gunakan, jangan sampai menggunakan dengan pengistilahan
yang bukan menjadi identitas buaya lokal kita. Yang terakhir “Mari Pertahankan
Budaya dan Tradsi Masyarakat Madura”
Kata
mantan dalam istilah bahasa indonesia diidentikkan dengan identitas seseorang
yang ditinggal kekasihnya, sudah lama menjalin hubungan, eh, ditengah
perjalanan ketikung orang, gara-gara kelamaan tak kunjung dihalalkan. Sungguh tragis,
tapi gimana lagi semesta lagi tak meridhoi. Di posisi ini yang bisa dilakukan
hanyalah menulis puisi yang didalamnya berisikan kenangan manis bersama
kekasihnya. Tapi yang harus dipahami bahwa walaupun rangkaian puisi itu
berisikan syair berdarah, tetep saja tidak akan merubah keadaan. Jadi kalau
kata santri madhura, sungguh itu pekerjaan yang “lagho” atau sia-sia.
Bagi
masyarakat Madura mengartikan kata mantan tidak seseram anak muda alami, malah
cendrung membahagiakan. Kata mantan dalam istilah madhura adalah identitas
seorang yang dalam posisi itu akan atau sedang melangsungkan pernikahan,
misalnya contoh pertanyaan yang sering muncul ketika ada acara pernikahan “mantanah
sapah kanak?”, yang artinya “siapa yang menikah?”. Sederhananya mantan itu
ya mempelai yang akan atau sedang melangsungkan pernikahan. Makanya ada
mempelai lelaki disebut “mantan lake’” sedangkan mempelai perempuan
disebut “mantan bini’”, sangat membahagiakan untuk dirasakan, tidak
seperti definisi anak mudan zaman now yang terlalau amatiran memaknai sosok
mantan.
Alhasil
mantan itu bukan syetan, anggap saja mantan itu mempelai seperti istilah yang
selama ini dikenal dikalangan masyarakat Madura, lumayan buat menghibur diri,
tapi ya jangan berharap bisa kembali. Pernyataan diatas hanya perbandingan
tentang penggunaan kata antara mantan yang diartikan oleh anak muda sekarang
dengan mantan yang diartikan oleh masyarakat Madura. Masalah kamu ditinggal
kekasihnya menikah itu urusan kamu, tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Dan
jangan berharap selepas kamu membaca tulisan ini, mantan kamu akan berubah
fikiran, please jangan mimpi disiang bolong, biar tidak kelihatan kalau kamu
sedang Jomblo.. Oke, kelar urusan !
Bumi Allah
27 Maret 2017
Memang semua tulisan
saya di berbagai media sosial maupun blog bisa dikatakan sangat tak ilmiah
(sampah), karena semuanya berangkat dari opini pribadi, hanya saja prinsip saya
dalam menulis “dari pada tidak menulis,
mendingan menulis, walaupun terkesan sangat tak penting”. Termasuk tulisan
saya tentang sejarah pradaban mantan ini, mungkin bagi mahasiswa PTKAIN di
semester pertama akan mendapatkan mata kuliah dasar Ke-Islaman diantaranya
Sejarah Pradaban Islam (History Of
Islamic Civilazition). Tapi saya tak mau menuliskan materi itu di tulisan
saya kali ini, kalau pingin tahu apa Sejarah Pradaba Islam itu Tanya saja sama sahabat-sahabat
Chondrodimuko atau tretan Imama yang ada di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, saya yakin mereka fasih dalam urusan sejarah Ke-Islaman.
Sejarah adalah segala
hal yang ada dimasa lampau (everything in
the past), atau kalau mengutip definisi yang ditawarkan oleh Kontowijoyo,
sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Sedangkan peradaban adalah Kumpulan identitas terluas yang termanifestasi
dari hasil budi daya manusia, dan mencakup element kehidupan manusia baik
secara fisik (bangunan, jalan) ataupun non fisik (tata nilai, seni iptek
ataupun budaya). Dan itu bisa teridentifikasi dengan hal yang sifatnya objektif
ataupun subjektif. Sekarang apa definisi mantan itu, sayapun tidak cukup berani
untuk mendifinisikan satu kata ini, karena sangat sensitif. Maka dari itu
sengaja saya ambilkan definisi mantan ini lewat mesin pencarian google. Ketika saya
menuliskan “definisi mantan” maka
google secara cerdas menawarkan definisi tanpa kita harus masuk di blog atau
websitenya orang. Menurut Profesor Google Mantan adalah orang yang awalnya kita anggap jodoh tapi
ternyata bukan. Juga bisa dkatakan seseorang yang pernah mengisi hati kita kemudian pergi meninggal kan luka. Pengibaratannya Bola Lampu. Walaupun sudah putus setidaknya
dia pernah menerangi hidup kita. Kira-kira definisi itu yang terpaksa
saya kopas dari google. Saya tekankan lagi, ini bukan definisi saya, ini
katanya Profesor google, mohon dilewati aja definisi mantan ini kalau memang
menyakitkan. Jangankan kalian yang membaca, saya aja yang menulis terpaksa
bersebelahan dengan setumpuk tisu.
Mungkin yang akan kalian pertanyakan adalah, “Apa landasan berfikirnya, kok tiba-tiba
mantan masuk dalam elemen pradaban”. Pertanyaan lainnya bisa koment lewat
bloggku aja nanti, jangan baper dulu. Izinkan saya menjelasakn dulu. Pertama mantan
sebagai sejarah, kalau berdasarakan definisi sejarah adalah “everything in the past” maka
kalian harus bersepakat, kalau tidak sepakat berarti kalian belum Move
on. Sekarang mantan sebagai pradaban berarti kalau kita sandarkan
pada definisi pradaban maka ada satu kata yang bagi saya sangat masuk, yaitu
peradaban mengandung sebuah nilai (value),
sejahat-jahatnya mantan kalian tetap saja mantan itu pernah memberikan
beberapa nilai kebaikan pada kalian, misalnya bagaimana dia harus selalu ada
disaat kalian membutuhkan, mencoba merangkai kata disaat kalian tertidur dengan
harapan kata-kata indah bisa menyambut bangun tidurmu menjelang subuh. Namun nilai
itu juga penting tapi maksud saya nilai agung dari mantan adalah bagaimana
upaya kita untuk tidak mengulangi kejadian yang berkesudahan dan hal itu
menyisakan luka yang berkepanjangan. Kalau dalam kata lain mantan sebagai ibrah
“reflection”, dari kejadian masa lalu
kita harus menjadi lebih baik dan bisa saling memahami satu sama lain hingga
akhirnya kalian menjadi manten bukan malah nekat hadir di mantenannya mantan. Ini
atrkasi namanya.
Kalau kata orang NU “al-muhafadhotu
‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, jadi mantan tetaplah mantan tetaplah
saling bertegur sapa, rajut hubungan silaturahim, dan dari pelajaran yang
didapatkan dari mantan itu buatlah bahan refleksi untuk menemukan dan
memepertahakan yang baru. Jadi “terhadap
seseorang yang pernah menyakitimu, tetaplah perlakukan terbaik, jangan apa-apa
salah mantan. Percayalah itu tidak baik untuk kesehatan hati dan akal sehatmu”.
Katanlah dalam benak kalian “mantan itu makhluk Tuhan yang Beradab, bukan yang
Biadab (bahasa arab)”. Itupun kalau kalian mau. Sekian tulisan tak penting ini.
Bumi Allah
27 Maret 2017







