Madura

Opini

PENDIDIKAN

POLITIK

Video News



Kata mantan dalam istilah bahasa indonesia diidentikkan dengan identitas seseorang yang ditinggal kekasihnya, sudah lama menjalin hubungan, eh, ditengah perjalanan ketikung orang, gara-gara kelamaan tak kunjung dihalalkan. Sungguh tragis, tapi gimana lagi semesta lagi tak meridhoi. Di posisi ini yang bisa dilakukan hanyalah menulis puisi yang didalamnya berisikan kenangan manis bersama kekasihnya. Tapi yang harus dipahami bahwa walaupun rangkaian puisi itu berisikan syair berdarah, tetep saja tidak akan merubah keadaan. Jadi kalau kata santri madhura, sungguh itu pekerjaan yang “lagho” atau sia-sia.

Bagi masyarakat Madura mengartikan kata mantan tidak seseram anak muda alami, malah cendrung membahagiakan. Kata mantan dalam istilah madhura adalah identitas seorang yang dalam posisi itu akan atau sedang melangsungkan pernikahan, misalnya contoh pertanyaan yang sering muncul ketika ada acara pernikahan “mantanah sapah kanak?”, yang artinya “siapa yang menikah?”. Sederhananya mantan itu ya mempelai yang akan atau sedang melangsungkan pernikahan. Makanya ada mempelai lelaki disebut “mantan lake’” sedangkan mempelai perempuan disebut “mantan bini’”, sangat membahagiakan untuk dirasakan, tidak seperti definisi anak mudan zaman now yang terlalau amatiran memaknai sosok mantan.

Alhasil mantan itu bukan syetan, anggap saja mantan itu mempelai seperti istilah yang selama ini dikenal dikalangan masyarakat Madura, lumayan buat menghibur diri, tapi ya jangan berharap bisa kembali. Pernyataan diatas hanya perbandingan tentang penggunaan kata antara mantan yang diartikan oleh anak muda sekarang dengan mantan yang diartikan oleh masyarakat Madura. Masalah kamu ditinggal kekasihnya menikah itu urusan kamu, tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Dan jangan berharap selepas kamu membaca tulisan ini, mantan kamu akan berubah fikiran, please jangan mimpi disiang bolong, biar tidak kelihatan kalau kamu sedang Jomblo.. Oke, kelar urusan !

Bumi Allah
27 Maret 2017

            




Memang semua tulisan saya di berbagai media sosial maupun blog bisa dikatakan sangat tak ilmiah (sampah), karena semuanya berangkat dari opini pribadi, hanya saja prinsip saya dalam menulis “dari pada tidak menulis, mendingan menulis, walaupun terkesan sangat tak penting”. Termasuk tulisan saya tentang sejarah pradaban mantan ini, mungkin bagi mahasiswa PTKAIN di semester pertama akan mendapatkan mata kuliah dasar Ke-Islaman diantaranya Sejarah Pradaban Islam (History Of Islamic Civilazition). Tapi saya tak mau menuliskan materi itu di tulisan saya kali ini, kalau pingin tahu apa Sejarah Pradaba Islam itu Tanya saja sama sahabat-sahabat Chondrodimuko atau tretan Imama yang ada di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya yakin mereka fasih dalam urusan sejarah Ke-Islaman.

Sejarah adalah segala hal yang ada dimasa lampau (everything in the past), atau kalau mengutip definisi yang ditawarkan oleh Kontowijoyo, sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Sedangkan peradaban adalah Kumpulan identitas terluas yang termanifestasi dari hasil budi daya manusia, dan mencakup element kehidupan manusia baik secara fisik (bangunan, jalan) ataupun non fisik (tata nilai, seni iptek ataupun budaya). Dan itu bisa teridentifikasi dengan hal yang sifatnya objektif ataupun subjektif. Sekarang apa definisi mantan itu, sayapun tidak cukup berani untuk mendifinisikan satu kata ini, karena sangat sensitif. Maka dari itu sengaja saya ambilkan definisi mantan ini lewat mesin pencarian google. Ketika saya menuliskan “definisi mantan” maka google secara cerdas menawarkan definisi tanpa kita harus masuk di blog atau websitenya orang. Menurut Profesor Google Mantan adalah orang yang awalnya kita anggap jodoh tapi ternyata bukan. Juga bisa dkatakan seseorang yang pernah mengisi hati kita kemudian pergi meninggal kan luka. Pengibaratannya Bola Lampu. Walaupun sudah putus setidaknya dia pernah menerangi hidup kita. Kira-kira definisi itu yang terpaksa saya kopas dari google. Saya tekankan lagi, ini bukan definisi saya, ini katanya Profesor google, mohon dilewati aja definisi mantan ini kalau memang menyakitkan. Jangankan kalian yang membaca, saya aja yang menulis terpaksa bersebelahan dengan setumpuk tisu.

Mungkin yang akan kalian pertanyakan adalah, “Apa landasan berfikirnya, kok tiba-tiba mantan masuk dalam elemen pradaban”. Pertanyaan lainnya bisa koment lewat bloggku aja nanti, jangan baper dulu. Izinkan saya menjelasakn dulu. Pertama mantan sebagai sejarah, kalau berdasarakan definisi sejarah adalah “everything in the past” maka kalian harus bersepakat, kalau tidak sepakat berarti kalian belum Move on. Sekarang mantan sebagai pradaban berarti kalau kita sandarkan pada definisi pradaban maka ada satu kata yang bagi saya sangat masuk, yaitu peradaban mengandung sebuah nilai (value), sejahat-jahatnya mantan kalian tetap saja mantan itu pernah memberikan beberapa nilai kebaikan pada kalian, misalnya bagaimana dia harus selalu ada disaat kalian membutuhkan, mencoba merangkai kata disaat kalian tertidur dengan harapan kata-kata indah bisa menyambut bangun tidurmu menjelang subuh. Namun nilai itu juga penting tapi maksud saya nilai agung dari mantan adalah bagaimana upaya kita untuk tidak mengulangi kejadian yang berkesudahan dan hal itu menyisakan luka yang berkepanjangan. Kalau dalam kata lain mantan sebagai ibrah “reflection”, dari kejadian masa lalu kita harus menjadi lebih baik dan bisa saling memahami satu sama lain hingga akhirnya kalian menjadi manten bukan malah nekat hadir di mantenannya mantan. Ini atrkasi namanya.

Kalau kata orang NU “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, jadi mantan tetaplah mantan tetaplah saling bertegur sapa, rajut hubungan silaturahim, dan dari pelajaran yang didapatkan dari mantan itu buatlah bahan refleksi untuk menemukan dan memepertahakan yang baru. Jadi “terhadap seseorang yang pernah menyakitimu, tetaplah perlakukan terbaik, jangan apa-apa salah mantan. Percayalah itu tidak baik untuk kesehatan hati dan akal sehatmu”. Katanlah dalam benak kalian “mantan itu makhluk Tuhan yang Beradab, bukan yang Biadab (bahasa arab)”. Itupun kalau kalian mau. Sekian tulisan tak penting ini.



Bumi Allah
27 Maret 2017

Gambar diambil dari laman amethystaiko.com

Kemaren saya menulis tentang “Rebbe”, dan rasa-rasanya amat tidak adil ketika saya tidak menulis tentang apa itu “Lasor”. Dikalangan masyarakat Madura (tertama di desa saya), kata “Lasor” ini jamak kita dengar ketika masyarakat Madura mempunyai hajat, semisal mau berangkat merantau, pergi haji dan hajat-hajat yang lain. Lasor ini kalau menurut saya lebih pada petunjuk sebuah acara ritual yang dilakukan oleh satu keluarga ataupun kelompok masyarakat Madura. Akan tetapi pelaksanaannya bukan dirumah, melainkan langsung ke buju’ (pemakaman). Dengan harapan dapat barokahnya para buju’ atau pendahulu yang dianggap sebagai orang paling berjasa terhadap suatu desa, misalanya kalau di desa saya ada buju’ Anggut pati, buju’ rahma dan buju’ keramat. Jadi setiap melaksanakan acara lasor disamping tawasulnya kepada Nabi, sahabat dan para ulama’, tawasul juga dikhusukan kepada nama buju’ terkait. Sekali lagi ini bukan praktek syirik tapi ini salah satu proses perpaduan ritual budaya dan nilai keagamaan. Toh, yang dibaca dalam acara ini adalah yasin dan Tahlil  bukan mantra.

Hidangan yang disajikan dalam “lasor” ini juga berbedahalnya dengan “rebbe”, kalau rebbe yang penting berupa makanan, akan tetapi berbeda dengan lasor. Dikalangan masyarakat Madura utamanya di desa saya, nasi yang sudah siap disajikan dibentuk kurang lebihnya seperti bentuk piramid tak bersisi, kalau versi orang jawa seperti nasi tumpang namun warnanya putih bukan kuning, disertai dengan lauk dan hidangan pendukung lainnya, ditambah lagi dengan asap keminyan. Dan hidangan tadi bukan untuk ditaruh di sebelah makam buju’, akan tetapi dikasihkan kepada masyarakat yang hadir dalam acara lasor itu.

Dan biasanya yang memimpin “lasor” itu adalah juru kunci dari pemakaman itu, semisal kalau di desa saya ada Ba Roji atau kalau tidak ada beliau bisanya diganti oleh pak Dia. Acara lasor ini setiap bulan tidak pernah sepi, bahkan dibulan-bulan tertentu bisa jadi setiap hari pemakanan atau buju’ rame dengan orang melaksanakan acara ini. Inilah bentuk kearifan lokal memaikan perannya sebagai manifestasi dari semangat ritualitas dan spiritualitas.

Bumi Allah
20 Maret 2018


“Rebbe” adalah kata yang kerapkali kita dengar dikalangan masyarakat Madura, setidaknya ada dua makna yang berbeda ketika harus menggunakan kata rebbe. Yang pertama kata rebbe merujuk pada nama bulan Sya’ban atau bulan sebelum bulan pasa’an (Ramadhan). Dimana dibulan ini biasanya masyarakat Madura melangsungkan pernikahan anaknya, walaupun ada juga yang memilih bulan selain bulan rebbe tapi dibulan ini tetap menjadi bulan favorit untuk masyarakat Madura yang mempunyai hajat menikahkan anaknya. Maka jangan heran ketika ada pertanyaan “Bileh si malakenah/mabininah anae’h?” (kapan rencana mau menikahkan anaknya?), maka biasanya masyarakat Madura menjawab “Insya Allah bulen rebbe” (Insya Allah bulan Sya’ban). Karena memang rebbe ini penunjuk bulan, atau dipersingkat lagi oleh masyarakat Madhura menjadi “Len Rebbe”.

Tidak hanya sebagai penunjuk bulan, kata “rebbe” juga sebagai nama dari sesajen masyarakat Madura setiap malam jum’at atau hari-hari lainnya ketika mempunyai hajat tertentu, sebenarnya sajian rebbe ini cukup sederhana minimal berisikan nasi dan lauk tergantung dari kemampuan masyarakat itu sendiri. Rebbe ini biasanya sebelum dikasihkan kepada tetangga terdekat terlebih dahulu didoakan dan dibacakan tawasul kepada ahli kubur dari keluarga itu sendiri, dari itu dikenallah “duwenah rebbe”, doanya sangat sederhana dan semua masyarakat Madura hafal sampai luar kepala. Prosesi sesajen ini sebenarnya hanya sebatas budaya bukan percaya sama sesajennya tapi lebih pada mempertahankan kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu, pada esensinya adalah bagaimana mengirimkan “fatihah dan kulhu” kepada keluarga yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia.

Pada akhirnya berangkat dari penjelasan dua pragraf diatas, kata rebbe dikalangan masyarakat Madura digunakan sebagai penunjuk bulan Sya’ban, dan sebagai nama dari sesajen malam jum’atan dan hajat-hajat lainnya. Dan bisa dipastikan dibulan “rejjeb” (rajab) ini masyarakat Madura ramai membuat rebbe dengan harapan semoga diberikan keselamatan dunia dan akhirat dengan barokah para ulama’ dan para buju’ yang sudah mendahuluinya.

Bumi Allah
18 Maret 2018


Saya tak pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan di dusun Soro’an, dan andaikan boleh meminta saya akan tetap memilih ingin terlahir di dusun Soro’an. Sebuah dusun kecil yang terletak di desa Marparan, kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang Madura. Kenapa harus bersyukur, jawabannya adalah masyarakat di dusun saya sangat ramah dan sangat bersahaja, selalu menjalani aktifitas kesehariannya dengan penuh kekeluargaan. Selain masyarakatnya yang ramah Tuhan menciptakan tempat saya lahir dengan mata pancarian yang lepas dari keberadaan musim. Di musim nambere’ (hujan) masyarakat berbondong-bondong menanam padi di sawah yang sudah dia miliki dan hampir semua masyarak memliki lahan untuk sekedar bercocok tanam padi, dan di musim nimur (panas) masyarakat di dusun saya memproduksi garam, ya walaupun kadangkala harga garam sering turun tapi rasa syukur harus dikedepankan, karena sangat jarang sekali ada daerah yang dalam dua musim masih bisa memanfaatkan lahannya sebagai mata pencarian.

Lepas dari pembahasan cara masyarakt dusun saya bertahan hidup, di dusun saya persoalan spritualitas yang dielaborasikan dengan ritualitas sangatlah kental, hal ini terlihat bagaimana partisipasi masyarakat ketika ada tetangga yang meninggal dan hajat-hajat lain seperti walimatul Hamli dll, semua masyarakat tergerak hatinya untuk ikut serta dalam berbagai ritual keagamaan itu. Riuh bunyi shalawatan, yasinan hingga tahlilan hampir tak pernah sepi di dusun Soro’an. Suasana inilah yang kadangkala saya enggan meninggalkan dusun tercinta.

Di dusun saya hampir semua masyarakatnya alumni pesantren yang sangat menjunjung etika bermasyarakat, pondasi ilmu agama amatlah dikedepankan sebelum menginjak kehidupan yang sebenarnya. Ada dua lembaga pendidikan Islam yang menjadi patron keilmuan di dusun saya, ada Madrasah Miftahul Ulum dan Madrasah An-Nur, dua madrasah inilah yang telah menjadi pelita bagi kehidupan masyarakt soro’an. Satu sama lain saling bersinergi demi terciptanya masyarakat yang berkeadaban serta memiliki bekal keilmuan yang memadai.  

Kira-kira itu sebagian hal yang harus saya syukuri sebagai salah satu orang yang sudah dilahirkan di desun permai Soro'an. Semoga bermanfaat.

Bumi Allah
18 Maret 2018




Pada dasarnya kata “abhekalan” ini lazim kita dengar dikalangan masyarakat Madura. Kata abhekalan berasal dari kata “Bekal” dalam bahasa indonesianya bermakna “akan”, dan kalau dalam bahasa arab mempunyai arti secara tidak langsung dengan zaman istiqbal (Fi’il Mudhori’). Kata kerja yang kemudian dijadikan kata benda sebagai penunjuk identitas seorang. Misalnya ada pertanyaan “Sapah bekalah kakeh cong?”, berarti orang itu sedang menanyakan “Siapa tunanganmu”. Secara historis timbulnya kata itu memang belum ditemukan dalam fakta sejarah konkritnya, pun bisa dibilang tidak baku, tapi apalah arti kata baku bagi kami orang Madura yang terpenting adalah paham maksud dan tujuannya.

Tradisi abhekalan ini menjadi pembahasan yang sampai sekarang masih dperdebatkan oleh kalangan muda, mereka beralasan tradisi ini membatasi rasa seorang seorang anak, kesannya intervensi (campur tangan) orang tua amatlah kuat dalam proses abhekalan ini. Cuman ada juga yang melakukan proses abhekalan ini atas dasar kemauannya sendiri. Bagi saya pribadi abhekalan ini sama halnya dengan tunangan, cuman entah kenapa kalau mendengar istilah “Abhekalan” pikiran kita selalu tertuju pada “ollenah oreng towah” (dijodohkan sama orang tua). Kecuali ada istilah “epabehekalen” atau di tunangkan baru itu seratus persen hasil ijtihad orang tua. Adanya Miss-persepsi semacam inilah yang harus diselesaikan biar tidak terjadi keslaah pahaman dalam persoalan penggunaan istilah.

Abhekalan bagi kami masyarakat Madura adalah upaya konkrit bagaimana mengikat jalinan kekeluargaan sebelum menginjak ke etape atau tahapan selanjutnya. Dalam arti lain abhekalan ini mempunyai fungsi biar kedua pihak sama-sama sadar bahwa sebentar lagi akan pertemuan dua keluarga yang akan terjalin dalam waktu yang amat lama. Dan menjadi satu kesadaran bagi anak-anaknya untuk tidak berbuat senonoh (alle ta’ bennyak atengka). Karena bagi kami orang Madura persoalan “tengka” ini persoalan yang sangat vital, mendingan bodoh dari pada tidak bisa menjaga tingkah laku atau dalam istilah kami “tengka”.

Dan abhekalan ini bisa menjadi semangat jika memang sesuai dengan harapannya, dan bisa jadi nispah (nestapa), jika itu bukan murni dari perasaannya sendiri melainkan hasil dari pilhan orang tua atau famili atau yang saya sebutkan tadi dengan istilah “epabhekalen”. Namun yang harus menjadi kesadaran bagi masyarakat Madhura adalah namanya juga “Abhekalan” bisa jadi berlanjut ke jenjang yang lebih serius dan bisa jadi gagal ditengah jalan. Dan apupun yang terjadi hal ini membuktikan bahwa catatan Tuhan di lauhul Mahfudz masih berlaku bagi semua masyarakat di bumi ini terutamanya bagi masyarakat Madura.

Intinah “Je’ pateh kapekker tako’ tak juduh, sing penting lastareh usaha, masalah becce’ ben beguseh la bedeh Allah sengatur. Je’ sampe’ gara-gara burung abhkelan keluarga bisa deddih rosak. Pas ta’ lebur deddinah”, patennang bedeh Allah. Pangeran settong e kaembulin”

Bumi Allah, 
17 Agustus 2016

Mahasiswa adalah ikon perubahan yang memliki tugas suci, demi mewujudkan perubahan perubahan yang diharapkan oleh semua rakyat Indonesia, melewati gerakan politiknya, gerakan massanya sampai gerakan intelektualnya  telah mewarnai sendi sendi kehidupan di Negara ini. Salah jika, kita menjustifikasi bahwa kekuatan tertinggi di negeri ini ialah president dan perangkatnya. Buktinya yang menggulung tikar seorang soeharto dan Bj. Habibi adalah gerakan yang muncul dari mahasiswa, dan pada saat itu, gerakan mahasiswa sukses melengserkan kedua president itu.

Daya kritis yang teraktualisasi dalam gerakan merupakan salah satu harga mati yang harus tetap menjadi ruh, dalam kehidupan seorang mahasiswa. Dan ketika titik tumpuhannya adalah daya kritis, sudah barang tenru lahapan sehari hari yang sekan menjadi sarapan pagi, adalah membaca buku, diskusi dan menulis yang nantinya memberikan daya nalar intektual tinggi penunjang daya kritis pada kejanggalan sosial.

Ada beberapa macam gerakan intelektual yang melekat dalam diri seoarang mahasiswa, baik yang sifatnya ideal ataupun sosial.
Pertama; intelektual menara gading, adalah salah satu intelektualisasi yang untuk pengembangan keilmuannya semata, tanpa adanya pengamalan di ruang lingkup sosial, aktivitas intelektual ini, bisa dikatan “masturbasi intelektual” kenikmatannya hanya bisa dinikmati sendiri.
Kedua; intelektual tukang, salah satu gerakan inteleketual yang memposisikan dirinya sebagai pelaku intelektual, dalam arti luasnya seorang mahasiswa yang rela menyumbangkan gagasannya demi memperlancar para kapitalistik (orang bermodal) dalam membangun kepentingan pribadinya.
Ketiga; Intelektual resi salah satu gerakan mahasiswa yang bisa menyelesaikan masalah masalah sosial disekitarnya, tapi tidak mau turun lapangan untuk merealisasikan semua gagasannya, hanya bisa mengkonsep tapi fakta dilapangan lari dari gagasan segarnya
Dan yang keempat; intelektual Transformatif. Dalam item ini, peran mahasiswa sejati adalah disamping cerdas memberikan gagasan segar, tapi juga bisa memberikan jalan keluar, beserta dengan aktualisasinya di lapangan.

Di poin empatlah sebenarnya peran mahasiswa dalam mewarnai dinamika kehidupan, karena apalah arti dari sebuah solusi tapi tidak bisa melaksanakan hasil dari solusi itu di kehidupan nyatanya, karena hakikatnya semua masyrakat awam, tidak mau tahu tentang esensi dari sebuah konsep, melainkan hasil dari solusi yang bisa dirasakan oleh masyrakat awam.

Semoaga tulisan yang tiada artinya inti, bisa memberikan sebuah pencerahan kecil, tentang hakikat mahasiswa yang katanya sebagai agent of chage dan agent of control.


Bumi Allah
04 September 2014
Desaku damai, penuh dengan keindahan yang memukau. Masyarakatnya pun sangat toleran, bersatu dalam ritual-ritual agamaan, saling berbagi dan mengasihi, tanpa konflik dan kecemburuan sosial. Di desa itu aku dilahirkan tepatnya 22 tahun yang lalu, wahana desa tanpa listrik namun tetap bercahaya dengan rembulan yang selalu menyinari sudut-sudut desaku. Orang-orang saling menyatu bicara tentang prekonomian dan sosial yang ada.


Terhitung empat tahun lamanya, orang tuaku menginginkan aku hijrah ke kota, dengan keyakinan bahwa “Anak desa seharusnya mempunyai tingkat pendidikan yang setara dengan anak-anak kota”. Semangat itu yang selam ini menjadi pertimbangan aku dalam menuntut Ilmu. Semua harta benda dikorbankan untuk ongkos pergi dan bertahan hidup di kota orang. Mengubah adaptasi sawah menjadi lingkungan yang berkelas dan formal.

Aku masih ingat, ketika aku sekolah SD dulu, tanpa seragampun jadi menuntut ilmu, mungkin kenakalan itu melupakan aku tentang betapa berjasanya guru-guru SD-ku, mereka berkorban menyebrangi pulau setapak untuk memberikan Ilmunya kepada kami. Guru kelas enamku (P. Samuji) menginginkan aku menjadi seorang tentara, beliau selalu memotivasi aku untuk selalu latihan fisik dan menjaga gizi dalam makanan, tapi apalah daya orang tuaku tak berdaya jika harus membayar ongkos kendaraan menuju tentara itu.


Aku bersyukur, dilahirkan di desa itu, Desa yang tetap hidup di dua musim, musim panas kami masih bisa melakukan hal yang produktif, menggarap air-air asin menjadi garam yang bisa di konsumsi oleh masyrakat umum, di musim hujanpun kami bisa bercocok tanam padi di sawah. Keunikan-keuinkan itu yang menjadi masyrakat di desa kami tetap bertahan hidup walau letaknya sangat jauh dari kota, bahkan untuk membeli kebutuhan sehari-haripun, masyrakat disana harus beranjak melewati sungai tenang.


Namun dibalik desaku yang damai itu bukan tanpa masalah. Masih banyak orang diluar sana yang masih meragukan kedamaian desa aku, dengan dalih pelosok yang tak mempunyai jembatan, padahal kata orang tua disana di desaku sudah diprediksikan akan mempunyai jembatan untuk menghubungkan anatara “Jicceng” dan ‘Soro’an”, akan tetapi semuanya tinggal kabar tanpa ada realisasi yang pasti. Tanda-tanda pengukuran lahan yang mau dijadikan lintasan jembatan tinggal tanda hitam dan penuh janji palsu.

Bukan apa-apa, tanpa jembatanpun, desa kami akan tetap indah dan menawan, akan tetapi akses prekonomian dan keberlanjutan hidup kami juga ditentukan oleh keberadaan jembatan itu. Terpaksa menunggu lama datangnya kapal yang biasa kami tumpangi, janjian sama rekan bisnis atapun dengan keluarga di rumah terpaksa lambat dan tidak ungkin bisa tepat waktu.

Masyrakat disana mungkin kebingungan, keluh kesah ini untuk siapa, dan dimana harus meletakkan aspirasi ini, aku pun bingung. Aku hanya anak desa yang ingin bercertia tentang keberadaan aku dan desaku, akan tetapi aku juga ingin disela-sela aku bercerita, ingin aku selipkan gelisah itu. Walau pada saat yang bersamaan akan merusak narasi dalam cerita ini, tapi tak apalah, setidaknya aku ingin memperkenalkan kepada publik tentang desa damai yang ada dipelosok desa..

Bumi Allah
02 Oktober 2016

Satu diantara wilayah yang ada di kabupaten Sampang kecamatan Sreseh desa Marparan yaitu dusun  Soro’an, salah satu dusun yang dikelilingi oleh sungai kecil dan bisa dikatakan letaknya terpencil dan jauh dari keramaian kota, untuk sampai di wilayah ini kita harus melewati berbagai kecamatan bahkan desa, dan harus menaiki perahu kecil yang bertarif Rp.2000 atau bagi yang bersepeda motor Rp 5000 pulang pergi. Jauh dari keramaian bukan berarti tidak ada listrik bahkan pradaban, akan tetapi letak geografis aja yang tidak menguntungkan, namun secara perkembangan tekhnologi tetap berkembang dan hampir setara dengan kota-kota yang dibilang pradabannya canggih.

Sektor prekonomian mulai mencapai bisa menyaingi desa lainnya, terbukti dengan tidak pernah surutnya lapangan pekerjaan yang ada. Di musim hujan masyrakat soro’an mencari nafkah di sawah yang mengitari rumah-rumah kecilnya untuk bercocok tanam, dan ketika musim panas melakukan aktifitas ekonominya di tambak dengan memproduksi garam dengan kualitas yang tidak kalah menarik dengan garam dari india dan Negara-negara lainnya. Hidup di dusun ini paling tidak walaupun tidak kaya, tapi kalau urusan makan dan kebutuhan sehari-hari sangat menjamin. Lebih-lebih ketika harga pasaran garam meningkat, hal ini sangat menguntungkan sekali bagi masyrakat yang hidup di dusun ini.

Dilihat dari dinamika sosial masyrakat Madura, terlintas dibenak kita, bahwasanya orang Madura suka carok dan kasar dalam hempitan sosialnya, tetapi bagi penulis, sangat tidak sepakat dan jauh dari kata benar. Karena ada sebgian daerah Madura yang tidak mempunyai tradisi carok dan kekerasan lainnya, contoh dusun soro’an ini, walaupun fitrah perbedaan sering bermunculan, tapi toleransi bermasyrakat mampu melumpuhkan konflik kecil yang ada. Kearifan lokal (local wisdom) yang menjadi pijakan bertindak salah satu representasi utuh “bahwasanya oang Madura tidak seperti orang jawa bayangkan”. Sisi Negatif pasti ada, namanya juga hidup tidak sendiri, akan tetapi stigma tentang kekerasan yang ada di wilayah Madura hanya sebatas liputan sejarah yang di majaskan sehingga kelihatannya besar dipermukaan, padahal kalau didalami secara subtansi damai dan sentosa (civil siciety).

Wilayah pendidikan di dusun soro’an di penuhi dengan cangkrama edukatif disetiap sudutnya, lembaga pendidikan formal maupun non formal menjadi pengikat dan keharusan untuk ditempuh secara kultural oleh anak-anak dan remaja yang hidup di dusun ini, biasanya setelah lulus SD ataupun SMP melanjutkan ke ranah keilmuan diniahnya atau yang akrab di kenal dengan Istilah pesantren. Dari pesantren ini, tak heran warna menciptakan budaya insan bersarung terus ada dari generasi ke generasi selanjutnya. Hukum syariat langsung dapat difungsikan dengan keadaan social yang ada. Sehingga nilai kebergunaan ilmu yang telah ditempuh kurang lebih 6 tahun dipesantren menjadi tolak ukur kesuksesannya.

Bumi Allah
24 Desember 2014
Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil Alamiin bagi orang Islam dengan ajaran yang sudah termaktub dalam kitab suci al-Qur’an dan al-Sunnahnya, begitupun agama lain akan mengatakan bahwasanya agamanya paling benar dan patut dianutinya dengan versi kitab dan ajaran yang berbeda, dan semua agama akan berbicara tentang datangnya hari kiamat dan hari-hari yang lainnya. Hal itu yang harus dipahami secara akal sehat, tapi fakta dilapangan agama cuman dijadikan alat konflik untuk merusak tatanan masyrakat, berlainan agama saling bertengkar karena paham yang berbeda meskipun harus menumpahkan darah dan lain sebaginya.

Apakah seperti itu warna agama yang menghiasi dunia ini? Bukannya agama adalah penyejuk alam disaat kering keronta dan manusia membutuhkan kedinginan ajaran itu. Agama Islam adalah agama yang Rahmatan lil Alamiin bukan Rahmatan Lil Muslimiin, dari itu Rahmat Allah bukan serta merta berhak dirasakan oleh orang Islam saja, melainkan Makhluk Allah yang ada di permukaan bumi ini. Namuan bagaimana orang Islam mengahrgai perbedaan itu, jangan sampai saling berperang hanya karena perbedaan atau tidak sepaham dengan apa yang menjadi prinsip keberagamaannya.

Potret buram yang dilakukan oleh sebagian umat islam banyak kekerasan yang terpose media hanya karena urusan yang tak seharusnya menjadi dipermaslahkan, Allah mangajarkan bagi semua musli  untuk berperangai halus dan lembut bukan perangai kasar dan jahat. Keseimbangan anatara hamblum minalllah wa hamblum minannas harus di tekankan dalam kehidupan social, apa gunanya beribadah siang malam tapi tidak pernah menghargai keadaan yang ada disekelilingnya. Coba bayangkan saja andai saja di dunia ini semuanya orang Islam apakah berwarna dan kelihatan kekompakan orang Islam, jelas tidak mungkin, maka dari itu disisi lain adanya orang non Islam salah satu manivestasi akan keberadaan dan kuatnya barisan Islam yang ramah dan santun.

Di momentum Tahun baru Natal salah satu seremonial yang tampaknya sangat dibenci oleh umat Islam, sampai sampai menyebarluaskan selembaran larangan mengucapkan hari Natal dan sebagainya. Apakah agama lain melakukan hal itu ketika Islam melaksanakan ulang tahun Islam  ataupun seremonial lainnya, tentu tidak. Bagi kita semua selaku orang Islam agama kita paling benar, tapi tidak segitunya kita melakukan hal-hal yang sekiranya menyinggung perasaan agama lain. Setidaknya ketika agama lain tidak menggangu keberadaan agama kita, mengapa kita harus melakukan kebencian.

Agama Islam harus mampu mengkontektualisasikan ajaran-ajarannya sehingga Islam tidak kelihatan agama yang terlalu mempermaslahkan sesuatu hal yang seharusnya tidak dipermaslahkan, yang terpenting baik pada kita dalam mewujudakn kehidupan social.

Bumi Allah
24 Desember 2014
Dari berbagai definisi dan informasi mengenai desain Asean Community 2015 ini, ada tiga pilar yang harus dipahami secara teknis implementatif (1) social ekonomic, (2) social security, dan (3) social culture. Pada point pertama dirisalahkan tentang ekonomi Asean melalui pasar bebas, artinya masyrakat Indonesia sudah tidak usah repot-repot mengurusi administrasi perdagangan kalau mau melakukan kerjasama bisnis dengan sepuluh Negara yang masuk dalam komunitas itu (tapi untuk sementara masih belum diperaktekkan secara konkrit dilapangan). Untuk point kedua komunitas Asean ini berkerjasama untuk meberantas adanya terorisme yang terus memburu perdamaian disetiap penjuru Negara, seperti jaringan islam Radikal maupun sejenisnya, yang mengatasnamakan Agama sebagai landasan berkiprahnya. Dan pada point terakhir ini salah satu kesepakatan dimana budaya yang ada di Indonesia halal masuk ke Negara lain ataupun sebaliknya, jadi nantinya jangan heran kalau budaya barat mulai menguasai bumi pertiwi ini, karena itu salah satu kesepakatan yang termaktub dalam tiga pilar terbentuknya Asean Communty 2015. 

Mungkin ulsan diatas inti kecil dari terbentuknya Asean Communty. Namun bagaimana dengan Masyrakat Madura sudah siapkah menghadapi pasar bebas?? Ataupun jangan-jangan belum tahu dengan istilah Asean Community?, bukan apa-apa, karena jangankan di Madura, di kota pendidikanpun sedikit sekali yang tahu dengan Istilah ini. Penulispun tahu istilah ini karena diuntungkan dengan jurusan yang sedang diimban, kalau posisinya seperti temen-temen saya yang ada di rumah mungkin tidak mau tahu dengan kebijakan baru ini. Setidaknya saling mengingatkan lewat tulisan sedikit banyak bertukar pengalam dari masing-masing duta Madura. Ada beberapa ulasan penting kalau kita menarik pulau Madura sebagai Sub dari pemeran Asean Community, diantaranya kearifan universal yang masih kental dan posisi pesantren salaf yang masih survive dengan pola pendidika yang masih konservatif.

a. Kearifan Universal 
Penulis lebih nyaman memanggilnya dengan kearifan universal dari pada kearifan local, karena takutnya identic dengan tempat-tempat lokalisasi. Kearifan universal yang ada di daerah Madura salah satu khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain, mulai dari keeratan keluarga dan bersaudara sampai sikap toleransi yang menjadi sikap permanen pada Masyrakatnya. Hal ini yang sangat diperhatinkan ketika masyrakat Madura tidak siap dengan senjata Asean itu, takutnya sikap dan sifat itu lambat laut hangus dan tergantikan dengan sikap krtis-apatis. Semuanya tersulap menjadi masyrakat materialistic, sawah-sawah yang menawan dan lautan yang megah akan ditukar dengan tawaran kerjasama yang tidak jelas. Dan ada saat. Ketika masyrakat Madura tidak mempersiapkan prisai saktinya, semua itu menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Lentang geografis mulai dari kabupaten bangkalan hingga Sumenep merupakan kekayaan yang tidak terjual dari Masyrakat Madura. Jangankan Asean Community, adanya Suramadu aja pabrik-pabrik asing sudah mulai masuk. Tidak bisa membayangkan sikap skeptis it uterus dimiliki oleh masyrakat Madura. 

b. Posisi Pesantren Salafiyyah 
Pesantren dengan corak salafi masih mendominasi di pulau Madura, meskipun ada beberapa pesantren yang bercorak modern, seperti Al-Amin dan sebagainya. Ada bebarap rintangan yang harus diselesaikan secara kelembagaan mengingat adaya Asean community ini, diantarnya harga tawar pesantren dalam menjawab gejala sosila yang ada. Setidaknya peantren salaf melakukan pembaharuan kurikulum yang berbasis bahasa namun tidak perlu harus dinaungi oleh instansi Negara, karena kepentingan ini bukan serta merta kepentingan Negara melainkan kepentingan Masyrakat Madura, teruatam para generasi-generasi Madura kedepannya. Jika pesantren salaf tetap ngotot dengan membuntukan peran bahasa, maka tipu muslihat akan segera meracuni kawasan Madura. 

Bumi Allah
21 Februari 2015

Merantau dari Madura ke Malang salah satu keinginan bagaimana nantinya menjadi orang yang bisa kembali kedaerah tercinta dengan segudang pemikiran dan kreasi demi menciptakan bahkan menghancurkan adat-adat mistis yang sudah tidak layak digunakan di Madura khususnya di desa saya. Namun  dari sekian banyak kakak tingkat saya yang sudah menyelesaikan studinya banyak yang keluar dan memilih hidup di luar Madura, dengan alasan yang berbeda. Diantaranya sudah kadung nyaman di pulau jawa ataupun pulau yang lain dengan pekerjaan yang menjanjikan atau dengan jabatan yang kalau masih di Madura tidak mungkin diperoleh, disamping factor internal dari individu para sarjana asal Madura, factor eksternal dari masyrakat setempatpun sangat mempengaruhi, diantaranya hilangnya idealisme budaya yang disebabkan kuatnya modernisasi, sehingga pola piker masyrakat sudah pragmatis. Salah satu contoh yang menonjol, dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tidak ada orang tua yang memandang bahwasanya anaknya harus jadi ini dan itu, paling-paling anaknya di pondokin terus di nikahin dan walaupun terlalu sederhana, tapi nilai keta’dziman kepada orang tua dan keluarga sangat baik dan lari-larinya walaupun harus berwirausaha usahanya diberikan kelancaran.

Namun akhir-akhir ini pondok pesantren yang salafi sudah mulai kadaluarsa, semua orang tua dilingkungan Madura menganggap ijazah adalah segala-galanya, biar nantinya anaknya jadi pegawai Negeri dan gampang melamar jadi orang kantoran, salah satu korbannya saya sendiri. Namun saya tidak menganggap itu buruk, cuman saya mencoba melihat dari sisi hilangnya kekeramatan masyrakat Madura, akibat terlalu terlena dengan keadaan zaman yang menina bobokannya. Sehinnga yang terjadi apa yang saya katakana diatas, sukses bukan membesarkan desanya malah mencari tempat yang lebih nyaman dan lambat laun sudah tidak mau dikatakan orang Madura. Kiayi dan ustadz yang ngajar di langgar kecil sudah tidak ada artinya lagi, lebih baik memilih orang yang berdasi dan mempunyai jaminan duniawi.

Masalah ini yang sering saya pikirkan, sampai-sampai aku berfikiran, buat apa saya kuliah toh kalau saja saya tidak bisa memberikan perubahan signifikan pada pulau tercintaku, dan malah membesarkan pulau lain. Karena bagi saya hijaunya cengkrama masyrakat Madura dulu sangat bersahabat, dan familiar kepada semua keluarga dan tetangganya, sering ngumpul bareng dan menjalankan kehidupannya dalam kedinginan dan kehangatan Musim. Jujur, aku rindu suasana damai itu.


Bumi Allah
13 Januari 2015

Memaknai subtansi kesetian dak kesabaran dalam dunia akademisi, tendensinya bukan setianya seorang lelaki terhadap wanita yang dia cintai, sehingga semua apa yang dia miliki rela dipersembahkan kepada orang yang dia cinta. Kesabaran dalam memperjuangkan cintanya sungguh tidak bisa dielakkan lagi dalam hitungan kesetiaan. Tapi penulis mencoba menguraikan urgensi kesetiaan dan kesabaran dalam berilmu dan memilih spesifikasi keilmuannya.
Teringat pada sebuah bacaan didinding salah satu pesantren yang ada di Pesantren Madura “Al-istiqomatu Aunul karomah”. Apapun yang manusia lakukan jika mempunyai niatan dan komitmen yang kuat, lambat laun perubahan ke arah yang lebih baik akan menghampirinya. Dalam lokus mahasiswa yang notabennya salah satu ciptaan tuhan yang diberikan kesempatan untuk duduk dibangku perkuliahan dan tidak semua pemuda Indonesia yang mempunyai kesempatan itu.

Konsistensi Mahaiswa cendrung ikut-ikutan dalam proses akademiknya, orang bicara politik mau mendalami politik, orang bicara sosial mau bicara sosial. Dengan kapasitas manusia yang proporsional, sudah saatnya kesetiaan dalam berilmu lebih dipentingkan, mahasiswa social seharusnya alim tentang sosial, mahasiswa usuluddin harus dalam keilmuan tentang ushuluddin.dari itu posisi pemuda saat ini akan mudah dipetakan dalam bidang keilmuannya, sepertihalnya para ilmuan yang setia dan selalu sabar atas pemikirannya, walaupun orang mengatakan tentang ketidak mungkinan tentang keberhasilannya, tapi dia selalu sabar dan setia, alhasil lahirlah pemikiran yang abadi sampai saat ini.

Memang tidak mudah, dengan iklim keilmuan dan fasilitas untuk memahami semua ilmu, tapi tidak maksimal juga, jika pengetahuannya setengah-setengah. Ketekunan dan tirakat pada satu tujuan akan mengantarkan Mahasiswa sebagai manusia sentral dalam mewujudakan ilmuan-ilmuan yang sesuia dengan ahlinya. (hasil refleksi seminar kepemudaan)

Bumi Allah
30 Maret 2015

Satu Muharrom adalah awal bulan dalam tahun hijriyah, hitungan hijriyah diambil dari prosesi hijrahnya Baginda Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah, karena Selama kurun waktu 12 tahun sejak Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, hinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang dikomandani oleh paman Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab. Akhirnya Rasulullah -pun melakukan prosesi hijrah ke Madinah, dan kabar baiknya kehadiran Rasullah dan sahabat Muhajirin di kota Madinah disambut baik oleh kaum Anshor, sehingga hanya membutuhkan delapan tahun lamanya gema Islam mulai didengar dan terima dipenjuru Dunia.


Semangat hijriyah disamping mempunyai makna sejarah yang sangat fenomenal, lebih dari itu Hijriyah telah menyadarkan manusia tentang pentingnya berhijrah-merantau (pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari buruk menjadi baik, dari hitam menuju kesucian). Fenomena hijrah ini seakan sudah menjadi hal yang lazim dilakukan oleh semua orang, seperti contoh dalam hal Tholabul-Ilmi, banyak orang yang harus merelakan keluarga dirumah demi mendapatkan ilmu ditempat yang jauh dari tempat mereka dibesarkan, begitupun dalam hal Tholabul-Rizqi, semua orang berbondong-bondong melangkahkan kakinya dari desa yang sudah membesarkan mereka menuju keramaian kota demi sesuap nasi. Dalam konteks perjalanan ruhaniyah (Spirual adventure), makna hijrah dapat di interpretasikan sebagai wahana pertaubatan dari amaliyah yang menyimpang dari koredor agama menuju satu jalan yang di ridhoi oleh Allah Saw.


Hijrah atau saya maknai sebagai merantau dianggap sebagai tradisi yang mengikat bagi seseorang untuk mengubah taraf hidupnya dari stratifikasi yang rendah menuju stratifikasi yang tinggi. Banyak orang desa yang sukses ketika melakukan hijrah tersebut bahkan mampu mengubah nasib jeleknya. Karena dalam konsep hijrah tersebut jika harus mengacu pada hijrahnya Rasulullah ke Madinah harus benar-benar membawa dampak perubahan yang signifikan (membawa misi). Maka kalau dalam terminology hijrah ala Madura dikatakan bahwa tolak ukur kesuksesan seorang jika dia sukses diluar daerahnya dan mampu memberikan perubahan bagi daerahnya. Budaya merantau ini kemudian oleh masyrakat Madura disitilahkan dengan bahasa “ongghe” dan ketika pulang ke Madura lagi disitilahkan dengan kata “toron”.

Berangkat dari ilustrasi diatas, seyogyanya di awal bulan Muharrom ini. kita jadikan momentum bersejarah untuk selalau memperbaiki diri kita, serta bagaimana kita harus survive dan sukses ditanah rantau. Dan yang menjadi penekanan dalam hal ini adalah bolehlah merantau sejauh bumi ini masih bulat hingga melepas batas-batas kemampuan orang lain melihat dan mengetahui kabar baik kita, akan tetapi tetaplah kembali ke daerah kita dilahirkan, karena keluarga dirumah sudah lama menahan rindu dan ingin bertemu dengan kita, jadilah perantau yang masih ingat daerah asal.


Bumi Allah
02 Oktober 2016

Saya adalah orang pertama yang kagum dengan satu Istilah “Konser padi” yang ada di desa kami. Mungkin ketika mendengar “Konser padi” jamak dari kita akan menggambarkan sebuah penampilan group band top yang pernah vakum dalam kurun waktu tujuh tahun dan kembali mengisi panggung hiburan tanah air pada tahun 2017 lalu. Dan sudah barang tentu kita semua mengenal lagu syahdu padi yang berjudul “menanti sebuah jawaban” bahkan judul lagu itu sudah berbentuk adegan film prihal perjalanan padi terutama masa-masa group band ini dalam keadaan vakum.
Tapi ah sudahlah, jangan berlama-lama membahas padi sebagai group band. Sekarang kita kembali membahas padi dalam bentuk kebutuhan primer masyarakat Indonesia pada khsusnya. Setiap musim panen padi tiba, di desa kami semua masyarakat berbondong-bondong ke sawah untuk memanen hasil tanaman padinya, beramai-ramai dan bergantian dari satu sawah ke sawah lainnya sesuai jadwal “Otosean”. “Otosen” ini maksudanya media masyarakat di desa kami untuk menyelesaikan proses panennya secara efisien dengan cara bergantian. Misalnya hari ini giliran sawahnya si A, otomatis si B, C, dan D fokus membantu sawahnya si A. Begitupun ketika si B ingin memanen hasil padinya, begitu seterusnya secara bergantian.
Namun akhir-akhir ini ada istilah yang berkembang ditengah-tengah masyarakat di desa kami, tentang penyebutan panen padi diganti dengan istilah “Konser padi”. Sayapun kurang paham siapa yang memulai, sehingga istilah itu menjadi salah satu jawaban bagi masyarakat desa saya yang pulang dari tempat rantauannya “Ka’ bedhe apa mi’ toron dhe’ Madhure”. Secara spontan jawabannya “ya’ bdhe konser padi eroma” (salah satu percakapan yang sengaja saya kutip dari salah satu masyarakat desa saya di kolom komentar facebook). Tentu hal ini membuat saya awalnya bingung, masak iya di desa saya akan ada konser padi, melihat aliran musik di desa saya hanya terpaku pada dangdut dan qosidah. Rasa penasaran itu terjawab setelah saya konfirmasi ke salah satu temen saya, ternyata konser padi itu ya “ngare’ padhi” atau panen padi. Tentu istilah yang proporsional digunakan untuk sejenak melawan lelah seharian di sawah. Semoga konser padi tahun ini memberikan satu pandangan baru bagi masyarakat desa Soro’an tentang pentingnya bersyukur.

Bumi Allah
10 Maret 2018

Popular Posts

Pengunjung

About Me



My Photo

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta






Blog Archive