Madura

Opini

PENDIDIKAN

POLITIK

Video News

You are here

SYURGA DALAM KELUARGA; Belajar dari Sepenggal Bait Alfiyah




Menikah adalah harapan semua orang, karena disamping tujuan keterpenuhan hak biologis, juga ada banyak bagian dari usaha sadar manusia untuk menghindar dari segala perbuatan tercela. Perintah menikah juga banyak termaktub dalam berbagai Hadist diantaranya “Barang siapa di antara kalian sudah mampu secara materi dan jasmani maka menikahlah karena hal itu bisa menjaga mata dan kemaluan, maka barang siapa tidak mampu hendaknya ia berpuasa karena puasa terdapat obat.” (H.R. Muttafaqun Alaih)” Hadist diatas menunjukkan betapa pentingnya proses berumah tangga bagi semua manusia yang hdiup di Bumi Allah.

Namun permasalahannya bagaimana prosesi kehidupan pasca melaksanakan perintah menikah, karena bagaimanapun menikah itu bukan persoalan satu hari atau dua hari, akan tetapi persoalan ikatan sepanjang hidup manusia. Kalimat “Qobiltu” yang terucap dari lisan lelaki dihadapan wali dan saksi bukan semata bermakna penerimaan dalam makna formal (sebatas menjadi suami), akan tetapi kalimat “Qobiltu” itu sendiri bermakna siap dan menerima  menjadi kunci solusi (problem soulver) dalam berbagai permasalahan keluarga.

Ada banyak ulama’ memberikan pandangannya masing-masing tentang tips (Thoriqoh) untuk menjaga keutuhan berkeluarga, diantaranya tawaran yang disyiratkan oleh Ibnu Malik dalam kitab Alfiahnya.
فَارْفَعْ بِضَمِّ وَانْصِبَنْ فَتْحَا وَجُرْ #  كَسْرٌ كَذِ كْرُاللهِ عَبْدَهُ يَسُر
وَجْزِمْ بِتَسْكِيْنِ وَغَيْرُ مَاذُكِرْ #  يَنُوْبُ نَحْوُ جَا أَخُو نَمِر
Secara harfiyah bait tersebut memang membahas tentang dasar-dasar ilmu Nahwu, akan tetapi ketika ditarik dalam arti interpretasi isyarat berumah tangga, maka bisa diartikan (فَارْفَعْ) junjunglah sebuah kekompakan (بِضَمِّ) diantara suami istri, dalam setiap dinamika berkeluarga sebisa mungkin utamakanlah kekompakan, musyawarakanlah dengan pasangan hidupnya sebelum memutuskan suatu sikap, jangan sampai ada satu sikap yang satu sama lain tidak tahu maksud dan tujuannya. Jadilah keluarga yang super team bukan super man atau super women. (وَانْصِبَنْ فَتْحَا) dan tegakkan keterbukaan diantara suami istri. Hal ini yang rentan terjadi dalam kehidupan suami-istri, kurangnya keterbukaan dalam segala urusan, sehingga berdampak hilangnya rasa percaya diantara keduanya. (وَجُرْ) tarik dan buanglah sebuah permasalahan yang menjadikan perpecahan (كَسْرٌ) didalam berumah tangga, atas segala permasalahan baik yang kecil usahakanlah dibicarakan baik-baik, jelaskanlah duduk perkaranya seperti apa dan temukanlah solusinya secara arif bersama-sama, jangan sampai hanya karena permasalahan kecil, hubungan yang sudah lama dijalani terpaksa dikorbankan karena ego semata.  (كَذِ كْرُاللهِ) dan hendaklah selalu berdoa kepada Allah SWT . ketaatan kepada Allah adalah master key (kunci utama) dalam berkeluarga, jangan lelah mengingat Allah dalam keadaan apapaun, mintalah kekekalan dalam keluarga  lewat media do’a. Dan yang terakhir (وَجْزِمْ) dan mantapkan, yaitu dengan berpendirian teguh (بِتَسْكِيْنِ) serta istiqomah, point istiqomah ini yang sangat dan amatlah sulit dilakukan oleh manusia pada umunya, saya jadi teringat dawuh Al-Muallim Al- Maghfurullah Murobbi Ruhiy KH. Busyiri Nawawi, yang kemudia selalu diingatkan oleh Murobbi Ruhiy KH. Athoullah Busyiri Nawawi di berbagai pengajian di pesantren Assirojiyyah “Soghi Bedhe e’ Abhe’, Penter Bedhe e’ Abhe’, se Malarat jiyah Istiqomah”, artinya Kaya dan pintar itu tergantung usaha kita, pingin kaya rajinlah bekerja, pingin pintar rajinlah belajar. Namun hal yang paling sulit adalah Istiqomah. Pun dalam kelaurga Istiqomah juga menjadi problem besar, seperti Istiqomah dalam beribadah kepada Allah, Istiqomah tetap mencintai keluarganya dll.

Wal. Hasil dari kalimat hikmah yang sengaja saya kutipkan dari sepenggal bait Alfiyah itu, mampu memberikan suntikan pelajaran bagi kita semua, terutamanya bagi suami istri yang sedang menjalani bahtera rumah tangga , ataupun bagi kalangan muda yang mempunyai niat utuk membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga kita semua termasuk orang orang yang selalu menjaga dan mencintai keutuhan keluarga. Amiin.

Bumi Allah, 16 April 2018

Ahmad Suhaimi

We are.., This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Popular Posts

Pengunjung

About Me



My Photo

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta






Blog Archive