Sebelumnya
mintaaf, izinkan saya menulis tulisan inin dengan tersenyum, karena memang saya
teringat masa kecil saya ketika bulan puasa tiba, saya dan temen-temen sebaya
pasti melakukan aktivitas ini. Saya juga kesulitas dalam hal ejaan yang benar
untuk menuliskan kata itu, anggap saja benarlah. Thuk-thuk-thuk satu
nama dari sebuah aktifitas membangunkan masyarakat sekitar untuk mempersiapkan
sajian sahurnya dan peserta thuk-thuk-thuk ini para generasi muda di desa saya,
mulai dari kelas TK sampai para santri yang sedang liburan. Sampai ada salah
satu teman saya menangis ke orang tuanya karena tidak dibangunkan pada jam
dimana aktifitas ini dilaksanakan.
Pertanyaannya
kenapa kok dinamakan dengan panggilan “Thuk-Thuk-Thuk”, karena alat
utama yang digunakan adalah bambu untuh yang dilubangi tengahnya, ketika
ditabuh bunyinya “Thuk”, dari itu masyarakat di desa saya menyebutnya “Thuk-Thuk-Thuk”.
Saya tidak tahu apa nama aktifitas ini di daerah lain terutama di wilayah
Madura, yang saya ceritakan adalah di desa permai Soro’an. Segala lagu
dinyanyikan mengikuti nada yang dimainkan mulai Shalwat, dangdut dan lagu-lagu
ciptaannya sendiri. Contohnya lagu buatan sendiri; “Sahur, Sahur, Sahur,
Nase’nah nase’ jegung, juko’nah juko’ gerreng, kuwanah kuwa maronggih. Sahur,
sahur, sahur”.
Lepas
dari aktifitas atau tradisi ini sebagai symbol tradisi bagi kalangan muda di desa akan
tetapi dampaknya sangat positif, dimana aktifitas ini membantu seluruh
masyarakat di desa saya untuk bangun dan mempersiapkan sahurnya, tujuannya agar
tidak kesiangan. Dan sebagai media para generasi muda untuk kumpul setiap jam
dua dini hari. Satu bulan lagi puasa akan tiba, dan perbincangan soal Thok thok
ini akan menjadi pembahasan utama kami sebagai masyarakat Soro’an.
Bumi Allah, 13 April 2018
Bumi Allah, 13 April 2018


Tidak ada komentar: