Pada dasarnya kata “abhekalan” ini lazim kita dengar
dikalangan masyarakat Madura. Kata abhekalan berasal dari kata “Bekal” dalam
bahasa indonesianya bermakna “akan”, dan kalau dalam bahasa arab mempunyai arti
secara tidak langsung dengan zaman istiqbal (Fi’il Mudhori’). Kata kerja yang
kemudian dijadikan kata benda sebagai penunjuk identitas seorang. Misalnya ada
pertanyaan “Sapah bekalah kakeh cong?”, berarti orang itu sedang menanyakan “Siapa
tunanganmu”. Secara historis timbulnya kata itu memang belum ditemukan dalam
fakta sejarah konkritnya, pun bisa dibilang tidak baku, tapi apalah arti kata
baku bagi kami orang Madura yang terpenting adalah paham maksud dan tujuannya.
Tradisi abhekalan ini menjadi pembahasan yang sampai
sekarang masih dperdebatkan oleh kalangan muda, mereka beralasan tradisi ini
membatasi rasa seorang seorang anak, kesannya intervensi (campur tangan) orang
tua amatlah kuat dalam proses abhekalan ini. Cuman ada juga yang melakukan
proses abhekalan ini atas dasar kemauannya sendiri. Bagi saya pribadi abhekalan
ini sama halnya dengan tunangan, cuman entah kenapa kalau mendengar istilah “Abhekalan”
pikiran kita selalu tertuju pada “ollenah oreng towah” (dijodohkan sama orang
tua). Kecuali ada istilah “epabehekalen” atau di tunangkan baru itu seratus
persen hasil ijtihad orang tua. Adanya Miss-persepsi semacam inilah yang harus
diselesaikan biar tidak terjadi keslaah pahaman dalam persoalan penggunaan
istilah.
Abhekalan bagi kami masyarakat Madura adalah upaya konkrit
bagaimana mengikat jalinan kekeluargaan sebelum menginjak ke etape atau tahapan
selanjutnya. Dalam arti lain abhekalan ini mempunyai fungsi biar kedua pihak
sama-sama sadar bahwa sebentar lagi akan pertemuan dua keluarga yang akan terjalin
dalam waktu yang amat lama. Dan menjadi satu kesadaran bagi anak-anaknya untuk
tidak berbuat senonoh (alle ta’ bennyak atengka). Karena bagi kami orang Madura
persoalan “tengka” ini persoalan yang sangat vital, mendingan bodoh dari pada
tidak bisa menjaga tingkah laku atau dalam istilah kami “tengka”.
Dan abhekalan ini bisa menjadi semangat jika memang sesuai
dengan harapannya, dan bisa jadi nispah (nestapa), jika itu bukan murni dari
perasaannya sendiri melainkan hasil dari pilhan orang tua atau famili atau yang
saya sebutkan tadi dengan istilah “epabhekalen”. Namun yang harus menjadi
kesadaran bagi masyarakat Madhura adalah namanya juga “Abhekalan” bisa jadi berlanjut
ke jenjang yang lebih serius dan bisa jadi gagal ditengah jalan. Dan apupun
yang terjadi hal ini membuktikan bahwa catatan Tuhan di lauhul Mahfudz masih
berlaku bagi semua masyarakat di bumi ini terutamanya bagi masyarakat Madura.
Intinah “Je’ pateh kapekker tako’ tak juduh, sing penting
lastareh usaha, masalah becce’ ben beguseh la bedeh Allah sengatur. Je’ sampe’
gara-gara burung abhkelan keluarga bisa deddih rosak. Pas ta’ lebur deddinah”,
patennang bedeh Allah. Pangeran settong e kaembulin”
Bumi Allah,
17 Agustus 2016


Tidak ada komentar: