Merantau dari Madura ke Malang salah satu keinginan bagaimana nantinya menjadi orang yang bisa kembali kedaerah tercinta dengan segudang pemikiran dan kreasi demi menciptakan bahkan menghancurkan adat-adat mistis yang sudah tidak layak digunakan di Madura khususnya di desa saya. Namun dari sekian banyak kakak tingkat saya yang sudah menyelesaikan studinya banyak yang keluar dan memilih hidup di luar Madura, dengan alasan yang berbeda. Diantaranya sudah kadung nyaman di pulau jawa ataupun pulau yang lain dengan pekerjaan yang menjanjikan atau dengan jabatan yang kalau masih di Madura tidak mungkin diperoleh, disamping factor internal dari individu para sarjana asal Madura, factor eksternal dari masyrakat setempatpun sangat mempengaruhi, diantaranya hilangnya idealisme budaya yang disebabkan kuatnya modernisasi, sehingga pola piker masyrakat sudah pragmatis. Salah satu contoh yang menonjol, dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tidak ada orang tua yang memandang bahwasanya anaknya harus jadi ini dan itu, paling-paling anaknya di pondokin terus di nikahin dan walaupun terlalu sederhana, tapi nilai keta’dziman kepada orang tua dan keluarga sangat baik dan lari-larinya walaupun harus berwirausaha usahanya diberikan kelancaran.
Namun akhir-akhir ini pondok pesantren yang salafi sudah mulai kadaluarsa, semua orang tua dilingkungan Madura menganggap ijazah adalah segala-galanya, biar nantinya anaknya jadi pegawai Negeri dan gampang melamar jadi orang kantoran, salah satu korbannya saya sendiri. Namun saya tidak menganggap itu buruk, cuman saya mencoba melihat dari sisi hilangnya kekeramatan masyrakat Madura, akibat terlalu terlena dengan keadaan zaman yang menina bobokannya. Sehinnga yang terjadi apa yang saya katakana diatas, sukses bukan membesarkan desanya malah mencari tempat yang lebih nyaman dan lambat laun sudah tidak mau dikatakan orang Madura. Kiayi dan ustadz yang ngajar di langgar kecil sudah tidak ada artinya lagi, lebih baik memilih orang yang berdasi dan mempunyai jaminan duniawi.
Masalah ini yang sering saya pikirkan, sampai-sampai aku berfikiran, buat apa saya kuliah toh kalau saja saya tidak bisa memberikan perubahan signifikan pada pulau tercintaku, dan malah membesarkan pulau lain. Karena bagi saya hijaunya cengkrama masyrakat Madura dulu sangat bersahabat, dan familiar kepada semua keluarga dan tetangganya, sering ngumpul bareng dan menjalankan kehidupannya dalam kedinginan dan kehangatan Musim. Jujur, aku rindu suasana damai itu.
Bumi Allah
13 Januari 2015



Tidak ada komentar: