Memaknai subtansi kesetian dak kesabaran dalam dunia akademisi, tendensinya bukan setianya seorang lelaki terhadap wanita yang dia cintai, sehingga semua apa yang dia miliki rela dipersembahkan kepada orang yang dia cinta. Kesabaran dalam memperjuangkan cintanya sungguh tidak bisa dielakkan lagi dalam hitungan kesetiaan. Tapi penulis mencoba menguraikan urgensi kesetiaan dan kesabaran dalam berilmu dan memilih spesifikasi keilmuannya.
Teringat pada sebuah bacaan didinding salah satu pesantren yang ada di Pesantren Madura “Al-istiqomatu Aunul karomah”. Apapun yang manusia lakukan jika mempunyai niatan dan komitmen yang kuat, lambat laun perubahan ke arah yang lebih baik akan menghampirinya. Dalam lokus mahasiswa yang notabennya salah satu ciptaan tuhan yang diberikan kesempatan untuk duduk dibangku perkuliahan dan tidak semua pemuda Indonesia yang mempunyai kesempatan itu.
Konsistensi Mahaiswa cendrung ikut-ikutan dalam proses akademiknya, orang bicara politik mau mendalami politik, orang bicara sosial mau bicara sosial. Dengan kapasitas manusia yang proporsional, sudah saatnya kesetiaan dalam berilmu lebih dipentingkan, mahasiswa social seharusnya alim tentang sosial, mahasiswa usuluddin harus dalam keilmuan tentang ushuluddin.dari itu posisi pemuda saat ini akan mudah dipetakan dalam bidang keilmuannya, sepertihalnya para ilmuan yang setia dan selalu sabar atas pemikirannya, walaupun orang mengatakan tentang ketidak mungkinan tentang keberhasilannya, tapi dia selalu sabar dan setia, alhasil lahirlah pemikiran yang abadi sampai saat ini.
Memang tidak mudah, dengan iklim keilmuan dan fasilitas untuk memahami semua ilmu, tapi tidak maksimal juga, jika pengetahuannya setengah-setengah. Ketekunan dan tirakat pada satu tujuan akan mengantarkan Mahasiswa sebagai manusia sentral dalam mewujudakan ilmuan-ilmuan yang sesuia dengan ahlinya. (hasil refleksi seminar kepemudaan)
Bumi Allah
30 Maret 2015



Tidak ada komentar: