Desaku damai, penuh dengan keindahan yang memukau. Masyarakatnya pun sangat toleran, bersatu dalam ritual-ritual agamaan, saling berbagi dan mengasihi, tanpa konflik dan kecemburuan sosial. Di desa itu aku dilahirkan tepatnya 22 tahun yang lalu, wahana desa tanpa listrik namun tetap bercahaya dengan rembulan yang selalu menyinari sudut-sudut desaku. Orang-orang saling menyatu bicara tentang prekonomian dan sosial yang ada.
Terhitung empat tahun lamanya, orang tuaku menginginkan aku hijrah ke kota, dengan keyakinan bahwa “Anak desa seharusnya mempunyai tingkat pendidikan yang setara dengan anak-anak kota”. Semangat itu yang selam ini menjadi pertimbangan aku dalam menuntut Ilmu. Semua harta benda dikorbankan untuk ongkos pergi dan bertahan hidup di kota orang. Mengubah adaptasi sawah menjadi lingkungan yang berkelas dan formal.
Aku masih ingat, ketika aku sekolah SD dulu, tanpa seragampun jadi menuntut ilmu, mungkin kenakalan itu melupakan aku tentang betapa berjasanya guru-guru SD-ku, mereka berkorban menyebrangi pulau setapak untuk memberikan Ilmunya kepada kami. Guru kelas enamku (P. Samuji) menginginkan aku menjadi seorang tentara, beliau selalu memotivasi aku untuk selalu latihan fisik dan menjaga gizi dalam makanan, tapi apalah daya orang tuaku tak berdaya jika harus membayar ongkos kendaraan menuju tentara itu.
Aku bersyukur, dilahirkan di desa itu, Desa yang tetap hidup di dua musim, musim panas kami masih bisa melakukan hal yang produktif, menggarap air-air asin menjadi garam yang bisa di konsumsi oleh masyrakat umum, di musim hujanpun kami bisa bercocok tanam padi di sawah. Keunikan-keuinkan itu yang menjadi masyrakat di desa kami tetap bertahan hidup walau letaknya sangat jauh dari kota, bahkan untuk membeli kebutuhan sehari-haripun, masyrakat disana harus beranjak melewati sungai tenang.
Namun dibalik desaku yang damai itu bukan tanpa masalah. Masih banyak orang diluar sana yang masih meragukan kedamaian desa aku, dengan dalih pelosok yang tak mempunyai jembatan, padahal kata orang tua disana di desaku sudah diprediksikan akan mempunyai jembatan untuk menghubungkan anatara “Jicceng” dan ‘Soro’an”, akan tetapi semuanya tinggal kabar tanpa ada realisasi yang pasti. Tanda-tanda pengukuran lahan yang mau dijadikan lintasan jembatan tinggal tanda hitam dan penuh janji palsu.
Bukan apa-apa, tanpa jembatanpun, desa kami akan tetap indah dan menawan, akan tetapi akses prekonomian dan keberlanjutan hidup kami juga ditentukan oleh keberadaan jembatan itu. Terpaksa menunggu lama datangnya kapal yang biasa kami tumpangi, janjian sama rekan bisnis atapun dengan keluarga di rumah terpaksa lambat dan tidak ungkin bisa tepat waktu.
Masyrakat disana mungkin kebingungan, keluh kesah ini untuk siapa, dan dimana harus meletakkan aspirasi ini, aku pun bingung. Aku hanya anak desa yang ingin bercertia tentang keberadaan aku dan desaku, akan tetapi aku juga ingin disela-sela aku bercerita, ingin aku selipkan gelisah itu. Walau pada saat yang bersamaan akan merusak narasi dalam cerita ini, tapi tak apalah, setidaknya aku ingin memperkenalkan kepada publik tentang desa damai yang ada dipelosok desa..
Bumi Allah


Tidak ada komentar: