Satu diantara wilayah yang ada di kabupaten Sampang kecamatan Sreseh desa Marparan yaitu dusun Soro’an, salah satu dusun yang dikelilingi oleh sungai kecil dan bisa dikatakan letaknya terpencil dan jauh dari keramaian kota, untuk sampai di wilayah ini kita harus melewati berbagai kecamatan bahkan desa, dan harus menaiki perahu kecil yang bertarif Rp.2000 atau bagi yang bersepeda motor Rp 5000 pulang pergi. Jauh dari keramaian bukan berarti tidak ada listrik bahkan pradaban, akan tetapi letak geografis aja yang tidak menguntungkan, namun secara perkembangan tekhnologi tetap berkembang dan hampir setara dengan kota-kota yang dibilang pradabannya canggih.
Sektor prekonomian mulai mencapai bisa menyaingi desa lainnya, terbukti dengan tidak pernah surutnya lapangan pekerjaan yang ada. Di musim hujan masyrakat soro’an mencari nafkah di sawah yang mengitari rumah-rumah kecilnya untuk bercocok tanam, dan ketika musim panas melakukan aktifitas ekonominya di tambak dengan memproduksi garam dengan kualitas yang tidak kalah menarik dengan garam dari india dan Negara-negara lainnya. Hidup di dusun ini paling tidak walaupun tidak kaya, tapi kalau urusan makan dan kebutuhan sehari-hari sangat menjamin. Lebih-lebih ketika harga pasaran garam meningkat, hal ini sangat menguntungkan sekali bagi masyrakat yang hidup di dusun ini.
Dilihat dari dinamika sosial masyrakat Madura, terlintas dibenak kita, bahwasanya orang Madura suka carok dan kasar dalam hempitan sosialnya, tetapi bagi penulis, sangat tidak sepakat dan jauh dari kata benar. Karena ada sebgian daerah Madura yang tidak mempunyai tradisi carok dan kekerasan lainnya, contoh dusun soro’an ini, walaupun fitrah perbedaan sering bermunculan, tapi toleransi bermasyrakat mampu melumpuhkan konflik kecil yang ada. Kearifan lokal (local wisdom) yang menjadi pijakan bertindak salah satu representasi utuh “bahwasanya oang Madura tidak seperti orang jawa bayangkan”. Sisi Negatif pasti ada, namanya juga hidup tidak sendiri, akan tetapi stigma tentang kekerasan yang ada di wilayah Madura hanya sebatas liputan sejarah yang di majaskan sehingga kelihatannya besar dipermukaan, padahal kalau didalami secara subtansi damai dan sentosa (civil siciety).
Wilayah pendidikan di dusun soro’an di penuhi dengan cangkrama edukatif disetiap sudutnya, lembaga pendidikan formal maupun non formal menjadi pengikat dan keharusan untuk ditempuh secara kultural oleh anak-anak dan remaja yang hidup di dusun ini, biasanya setelah lulus SD ataupun SMP melanjutkan ke ranah keilmuan diniahnya atau yang akrab di kenal dengan Istilah pesantren. Dari pesantren ini, tak heran warna menciptakan budaya insan bersarung terus ada dari generasi ke generasi selanjutnya. Hukum syariat langsung dapat difungsikan dengan keadaan social yang ada. Sehingga nilai kebergunaan ilmu yang telah ditempuh kurang lebih 6 tahun dipesantren menjadi tolak ukur kesuksesannya.
Bumi Allah
24 Desember 2014


Tidak ada komentar: