Madura

Opini

PENDIDIKAN

POLITIK

Video News

You are here

Muharrom Tunas Sejarah Berhijrah/Merantau


Satu Muharrom adalah awal bulan dalam tahun hijriyah, hitungan hijriyah diambil dari prosesi hijrahnya Baginda Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah, karena Selama kurun waktu 12 tahun sejak Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, hinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang dikomandani oleh paman Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab. Akhirnya Rasulullah -pun melakukan prosesi hijrah ke Madinah, dan kabar baiknya kehadiran Rasullah dan sahabat Muhajirin di kota Madinah disambut baik oleh kaum Anshor, sehingga hanya membutuhkan delapan tahun lamanya gema Islam mulai didengar dan terima dipenjuru Dunia.


Semangat hijriyah disamping mempunyai makna sejarah yang sangat fenomenal, lebih dari itu Hijriyah telah menyadarkan manusia tentang pentingnya berhijrah-merantau (pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari buruk menjadi baik, dari hitam menuju kesucian). Fenomena hijrah ini seakan sudah menjadi hal yang lazim dilakukan oleh semua orang, seperti contoh dalam hal Tholabul-Ilmi, banyak orang yang harus merelakan keluarga dirumah demi mendapatkan ilmu ditempat yang jauh dari tempat mereka dibesarkan, begitupun dalam hal Tholabul-Rizqi, semua orang berbondong-bondong melangkahkan kakinya dari desa yang sudah membesarkan mereka menuju keramaian kota demi sesuap nasi. Dalam konteks perjalanan ruhaniyah (Spirual adventure), makna hijrah dapat di interpretasikan sebagai wahana pertaubatan dari amaliyah yang menyimpang dari koredor agama menuju satu jalan yang di ridhoi oleh Allah Saw.


Hijrah atau saya maknai sebagai merantau dianggap sebagai tradisi yang mengikat bagi seseorang untuk mengubah taraf hidupnya dari stratifikasi yang rendah menuju stratifikasi yang tinggi. Banyak orang desa yang sukses ketika melakukan hijrah tersebut bahkan mampu mengubah nasib jeleknya. Karena dalam konsep hijrah tersebut jika harus mengacu pada hijrahnya Rasulullah ke Madinah harus benar-benar membawa dampak perubahan yang signifikan (membawa misi). Maka kalau dalam terminology hijrah ala Madura dikatakan bahwa tolak ukur kesuksesan seorang jika dia sukses diluar daerahnya dan mampu memberikan perubahan bagi daerahnya. Budaya merantau ini kemudian oleh masyrakat Madura disitilahkan dengan bahasa “ongghe” dan ketika pulang ke Madura lagi disitilahkan dengan kata “toron”.

Berangkat dari ilustrasi diatas, seyogyanya di awal bulan Muharrom ini. kita jadikan momentum bersejarah untuk selalau memperbaiki diri kita, serta bagaimana kita harus survive dan sukses ditanah rantau. Dan yang menjadi penekanan dalam hal ini adalah bolehlah merantau sejauh bumi ini masih bulat hingga melepas batas-batas kemampuan orang lain melihat dan mengetahui kabar baik kita, akan tetapi tetaplah kembali ke daerah kita dilahirkan, karena keluarga dirumah sudah lama menahan rindu dan ingin bertemu dengan kita, jadilah perantau yang masih ingat daerah asal.


Bumi Allah
02 Oktober 2016

Ahmad Suhaimi

We are.., This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Popular Posts

Pengunjung

About Me



My Photo

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta






Blog Archive