Gambar diambil dari laman amethystaiko.com
Kemaren saya menulis tentang “Rebbe”, dan
rasa-rasanya amat tidak adil ketika saya tidak menulis tentang apa itu “Lasor”.
Dikalangan masyarakat Madura (tertama di desa saya), kata “Lasor” ini
jamak kita dengar ketika masyarakat Madura mempunyai hajat, semisal mau
berangkat merantau, pergi haji dan hajat-hajat yang lain. Lasor ini kalau
menurut saya lebih pada petunjuk sebuah acara ritual yang dilakukan oleh satu
keluarga ataupun kelompok masyarakat Madura. Akan tetapi pelaksanaannya bukan
dirumah, melainkan langsung ke buju’ (pemakaman). Dengan harapan dapat
barokahnya para buju’ atau pendahulu yang dianggap sebagai orang paling
berjasa terhadap suatu desa, misalanya kalau di desa saya ada buju’ Anggut
pati, buju’ rahma dan buju’ keramat. Jadi setiap
melaksanakan acara lasor disamping tawasulnya kepada Nabi, sahabat dan para
ulama’, tawasul juga dikhusukan kepada nama buju’ terkait. Sekali lagi
ini bukan praktek syirik tapi ini salah satu proses perpaduan ritual budaya dan
nilai keagamaan. Toh, yang dibaca dalam acara ini adalah yasin dan Tahlil bukan mantra.
Hidangan yang disajikan dalam “lasor” ini juga
berbedahalnya dengan “rebbe”, kalau rebbe yang penting berupa
makanan, akan tetapi berbeda dengan lasor. Dikalangan masyarakat Madura
utamanya di desa saya, nasi yang sudah siap disajikan dibentuk kurang lebihnya
seperti bentuk piramid tak bersisi, kalau versi orang jawa seperti nasi tumpang namun warnanya putih bukan kuning, disertai dengan lauk dan hidangan pendukung
lainnya, ditambah lagi dengan asap keminyan. Dan hidangan tadi bukan untuk
ditaruh di sebelah makam buju’, akan tetapi dikasihkan kepada masyarakat yang
hadir dalam acara lasor itu.
Dan biasanya yang memimpin “lasor” itu adalah juru
kunci dari pemakaman itu, semisal kalau di desa saya ada Ba Roji atau kalau
tidak ada beliau bisanya diganti oleh pak Dia. Acara lasor ini setiap bulan
tidak pernah sepi, bahkan dibulan-bulan tertentu bisa jadi setiap hari
pemakanan atau buju’ rame dengan orang melaksanakan acara ini. Inilah bentuk
kearifan lokal memaikan perannya sebagai manifestasi dari semangat ritualitas
dan spiritualitas.
Bumi Allah
20 Maret 2018


Tidak ada komentar: