Memang semua tulisan
saya di berbagai media sosial maupun blog bisa dikatakan sangat tak ilmiah
(sampah), karena semuanya berangkat dari opini pribadi, hanya saja prinsip saya
dalam menulis “dari pada tidak menulis,
mendingan menulis, walaupun terkesan sangat tak penting”. Termasuk tulisan
saya tentang sejarah pradaban mantan ini, mungkin bagi mahasiswa PTKAIN di
semester pertama akan mendapatkan mata kuliah dasar Ke-Islaman diantaranya
Sejarah Pradaban Islam (History Of
Islamic Civilazition). Tapi saya tak mau menuliskan materi itu di tulisan
saya kali ini, kalau pingin tahu apa Sejarah Pradaba Islam itu Tanya saja sama sahabat-sahabat
Chondrodimuko atau tretan Imama yang ada di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, saya yakin mereka fasih dalam urusan sejarah Ke-Islaman.
Sejarah adalah segala
hal yang ada dimasa lampau (everything in
the past), atau kalau mengutip definisi yang ditawarkan oleh Kontowijoyo,
sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Sedangkan peradaban adalah Kumpulan identitas terluas yang termanifestasi
dari hasil budi daya manusia, dan mencakup element kehidupan manusia baik
secara fisik (bangunan, jalan) ataupun non fisik (tata nilai, seni iptek
ataupun budaya). Dan itu bisa teridentifikasi dengan hal yang sifatnya objektif
ataupun subjektif. Sekarang apa definisi mantan itu, sayapun tidak cukup berani
untuk mendifinisikan satu kata ini, karena sangat sensitif. Maka dari itu
sengaja saya ambilkan definisi mantan ini lewat mesin pencarian google. Ketika saya
menuliskan “definisi mantan” maka
google secara cerdas menawarkan definisi tanpa kita harus masuk di blog atau
websitenya orang. Menurut Profesor Google Mantan adalah orang yang awalnya kita anggap jodoh tapi
ternyata bukan. Juga bisa dkatakan seseorang yang pernah mengisi hati kita kemudian pergi meninggal kan luka. Pengibaratannya Bola Lampu. Walaupun sudah putus setidaknya
dia pernah menerangi hidup kita. Kira-kira definisi itu yang terpaksa
saya kopas dari google. Saya tekankan lagi, ini bukan definisi saya, ini
katanya Profesor google, mohon dilewati aja definisi mantan ini kalau memang
menyakitkan. Jangankan kalian yang membaca, saya aja yang menulis terpaksa
bersebelahan dengan setumpuk tisu.
Mungkin yang akan kalian pertanyakan adalah, “Apa landasan berfikirnya, kok tiba-tiba
mantan masuk dalam elemen pradaban”. Pertanyaan lainnya bisa koment lewat
bloggku aja nanti, jangan baper dulu. Izinkan saya menjelasakn dulu. Pertama mantan
sebagai sejarah, kalau berdasarakan definisi sejarah adalah “everything in the past” maka
kalian harus bersepakat, kalau tidak sepakat berarti kalian belum Move
on. Sekarang mantan sebagai pradaban berarti kalau kita sandarkan
pada definisi pradaban maka ada satu kata yang bagi saya sangat masuk, yaitu
peradaban mengandung sebuah nilai (value),
sejahat-jahatnya mantan kalian tetap saja mantan itu pernah memberikan
beberapa nilai kebaikan pada kalian, misalnya bagaimana dia harus selalu ada
disaat kalian membutuhkan, mencoba merangkai kata disaat kalian tertidur dengan
harapan kata-kata indah bisa menyambut bangun tidurmu menjelang subuh. Namun nilai
itu juga penting tapi maksud saya nilai agung dari mantan adalah bagaimana
upaya kita untuk tidak mengulangi kejadian yang berkesudahan dan hal itu
menyisakan luka yang berkepanjangan. Kalau dalam kata lain mantan sebagai ibrah
“reflection”, dari kejadian masa lalu
kita harus menjadi lebih baik dan bisa saling memahami satu sama lain hingga
akhirnya kalian menjadi manten bukan malah nekat hadir di mantenannya mantan. Ini
atrkasi namanya.
Kalau kata orang NU “al-muhafadhotu
‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, jadi mantan tetaplah mantan tetaplah
saling bertegur sapa, rajut hubungan silaturahim, dan dari pelajaran yang
didapatkan dari mantan itu buatlah bahan refleksi untuk menemukan dan
memepertahakan yang baru. Jadi “terhadap
seseorang yang pernah menyakitimu, tetaplah perlakukan terbaik, jangan apa-apa
salah mantan. Percayalah itu tidak baik untuk kesehatan hati dan akal sehatmu”.
Katanlah dalam benak kalian “mantan itu makhluk Tuhan yang Beradab, bukan yang
Biadab (bahasa arab)”. Itupun kalau kalian mau. Sekian tulisan tak penting ini.
Bumi Allah
27 Maret 2017


Tidak ada komentar: