“Rebbe”
adalah kata yang kerapkali kita dengar dikalangan masyarakat Madura, setidaknya
ada dua makna yang berbeda ketika harus menggunakan kata rebbe. Yang pertama
kata rebbe merujuk pada nama bulan Sya’ban atau bulan sebelum bulan pasa’an
(Ramadhan). Dimana dibulan ini biasanya masyarakat Madura melangsungkan
pernikahan anaknya, walaupun ada juga yang memilih bulan selain bulan rebbe tapi
dibulan ini tetap menjadi bulan favorit untuk masyarakat Madura yang mempunyai
hajat menikahkan anaknya. Maka jangan heran ketika ada pertanyaan “Bileh si
malakenah/mabininah anae’h?” (kapan rencana mau menikahkan anaknya?), maka
biasanya masyarakat Madura menjawab “Insya Allah bulen rebbe” (Insya
Allah bulan Sya’ban). Karena memang rebbe ini penunjuk bulan, atau
dipersingkat lagi oleh masyarakat Madhura menjadi “Len Rebbe”.
Tidak
hanya sebagai penunjuk bulan, kata “rebbe” juga sebagai nama dari
sesajen masyarakat Madura setiap malam jum’at atau hari-hari lainnya ketika mempunyai
hajat tertentu, sebenarnya sajian rebbe ini cukup sederhana minimal berisikan
nasi dan lauk tergantung dari kemampuan masyarakat itu sendiri. Rebbe ini
biasanya sebelum dikasihkan kepada tetangga terdekat terlebih dahulu didoakan
dan dibacakan tawasul kepada ahli kubur dari keluarga itu sendiri, dari itu
dikenallah “duwenah rebbe”, doanya sangat sederhana dan semua masyarakat
Madura hafal sampai luar kepala. Prosesi sesajen ini sebenarnya hanya sebatas
budaya bukan percaya sama sesajennya tapi lebih pada mempertahankan kearifan
lokal yang diwariskan para pendahulu, pada esensinya adalah bagaimana
mengirimkan “fatihah dan kulhu” kepada keluarga yang sudah terlebih
dahulu meninggalkan dunia.
Pada
akhirnya berangkat dari penjelasan dua pragraf diatas, kata rebbe
dikalangan masyarakat Madura digunakan sebagai penunjuk bulan Sya’ban, dan
sebagai nama dari sesajen malam jum’atan dan hajat-hajat lainnya. Dan bisa
dipastikan dibulan “rejjeb” (rajab) ini masyarakat Madura ramai membuat
rebbe dengan harapan semoga diberikan keselamatan dunia dan akhirat dengan
barokah para ulama’ dan para buju’ yang sudah mendahuluinya.
18 Maret 2018


Tidak ada komentar: