Kata
mantan dalam istilah bahasa indonesia diidentikkan dengan identitas seseorang
yang ditinggal kekasihnya, sudah lama menjalin hubungan, eh, ditengah
perjalanan ketikung orang, gara-gara kelamaan tak kunjung dihalalkan. Sungguh tragis,
tapi gimana lagi semesta lagi tak meridhoi. Di posisi ini yang bisa dilakukan
hanyalah menulis puisi yang didalamnya berisikan kenangan manis bersama
kekasihnya. Tapi yang harus dipahami bahwa walaupun rangkaian puisi itu
berisikan syair berdarah, tetep saja tidak akan merubah keadaan. Jadi kalau
kata santri madhura, sungguh itu pekerjaan yang “lagho” atau sia-sia.
Bagi
masyarakat Madura mengartikan kata mantan tidak seseram anak muda alami, malah
cendrung membahagiakan. Kata mantan dalam istilah madhura adalah identitas
seorang yang dalam posisi itu akan atau sedang melangsungkan pernikahan,
misalnya contoh pertanyaan yang sering muncul ketika ada acara pernikahan “mantanah
sapah kanak?”, yang artinya “siapa yang menikah?”. Sederhananya mantan itu
ya mempelai yang akan atau sedang melangsungkan pernikahan. Makanya ada
mempelai lelaki disebut “mantan lake’” sedangkan mempelai perempuan
disebut “mantan bini’”, sangat membahagiakan untuk dirasakan, tidak
seperti definisi anak mudan zaman now yang terlalau amatiran memaknai sosok
mantan.
Alhasil
mantan itu bukan syetan, anggap saja mantan itu mempelai seperti istilah yang
selama ini dikenal dikalangan masyarakat Madura, lumayan buat menghibur diri,
tapi ya jangan berharap bisa kembali. Pernyataan diatas hanya perbandingan
tentang penggunaan kata antara mantan yang diartikan oleh anak muda sekarang
dengan mantan yang diartikan oleh masyarakat Madura. Masalah kamu ditinggal
kekasihnya menikah itu urusan kamu, tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Dan
jangan berharap selepas kamu membaca tulisan ini, mantan kamu akan berubah
fikiran, please jangan mimpi disiang bolong, biar tidak kelihatan kalau kamu
sedang Jomblo.. Oke, kelar urusan !
Bumi Allah
27 Maret 2017


Tidak ada komentar: