Membincang
peristilahan kata yang ada di Madura memang tiada habisnya, disamping mengandung
makna yang dalam, juga tidak boros pada penggunaan kata. Pagi ini saya ingin
sedikit memperkenalkan istilah yang ketika saya masih kecil sering saya dengar
ketika malam jum’at. Istilah itu adalah “Asyarakalan”. Tapi istilah ini
hanya sebagian masyarakat Madura yang menggunakannya, sebagian lagi malah tidak
tahu dengan istilah sarakalan ini. Di desa saya Asyarakalan adalah istilah yang
digunakan sebagai petunjuk suatu kegiatan membaca shalawat. Tapi kenapa kok
bisa disebut dengan Asyarakalan. Apa hubungannya dengan kegiatan majlis
shalawat dengan istilah sarakalan?. Menurut sebagian teman saya di Madura,
bahwa sarakalan itu diambil dari bacaan shlawat ketika masyarakat Madura sedang
Mahallul Qiyam, di teks shalawat itu ada bacaan “Asyraqol Badru Alaina....”
. Makanya untuk mempermudah dalam penyebutan suatu kegiatan, diambillah kata
Asyraqal yang kemudian dipelesetkan menjadi “Asyarakalan”.
Memang
secara makna sangat keliru, tapi bagi masyarakat Madura maksud dari Istilah “Asyarakalan”
itu sendiri bukan untuk dimakanai akan tetapi hanya sebatas penyebutan saja, subtansinya
adalah bagaimana masyarakat Madura terutama di desa saya melangsungkan
pembacaan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dengan harapan mendapatkan
syafaat. Dengan kayanya masyarakat Madura dengan beraneka ragam Istilah
sebenarnya menjadi kewajiban bagi generasi muda yang berasal dari Madura untuk
mempertahankannya, artinya istilah-istilah yang diwariskan oleh para pendahulu
kita harus tetap kita gunakan, jangan sampai menggunakan dengan pengistilahan
yang bukan menjadi identitas buaya lokal kita. Yang terakhir “Mari Pertahankan
Budaya dan Tradsi Masyarakat Madura”


Tidak ada komentar: