Hampir
semua masyarakat yang ada Indonesia ketika ditanya tentang musim , maka definisi yang keluar adalah tentang salah satu klasifikasi
utama tahun, yang itu berdasarkan bentuk iklim secara luas, misalnya di
Indonesia kita kenal ada musim panas dan musim kemarau (panas). Tapi bedahalnya
ketika musim itu ditarik dalam konstruksi dialogis yang sering dilakukan oleh
masyarakat madura yang kemudian dialih bahasakan menjadi kata “Osom”,
tapi secara terminologis definisnya sama dalam pendekatan arti dan makna. Perbedaannya
hanya pada proses universalisasi penggunaan kata itu.
Masyarakat Madura menggunakan kata musim atau osom itu tidak
hanya sebatas pada suatu keadaan alam, seperti panas dan hujan. Tapi lebih pada
sebab dari keadaan iklim itu. Misalnya musim panas, maka masyarakat madura
khsusunya di daerah saya mengidentikkan dengan “Osom Mader” atau musim
masyarakat di Madura memperoduksi garam, atau juga disebagian daerah yang dalam
musim panas itu menanam tembakau, sehingga istilahnya berubah menjadi “Osom
Bekoh”. Dan ketika musim hujanpun masyarakat Madura juga jarang untuk
mengakatan musim itu dalam arti sebenarnya, melainkan yang dikenal malah “osom
padhi”, suatu musim dimana masyarakat Madura berbondong untuk bercocok tanam
padi di sawahnya masing-masing.
Keluar dari konteks diatas, pun orang Madura juga
mengistilahkan musim atau osom itu sebagai simbol suatu kegiatan yang bersifat keberlanjutan
(sustainability). Misal pada satu bulan tertentu mayoritas masyarakat
Madura melaksanakan pernikahan, maka disebutlah “osom mantan” seperti
bulan-bulan Sya’ban/Rebbe. Atau ada juga “osom Lasor” dan masih banyak lagi
musim/osom yang disgunakan oleh masyarakat Madura. Dalam hal ini bahwa memang
bagi masyarakat Madura penggunaan kata musim/osom itu tidak dipenjara oleh
suatu iklim atau cuaca, akan tetapi lebih bermakna universal.


Tidak ada komentar: